Sebenarnya kita paham bahwa kematian
dapat berlaku pada siapa saja, makhluk di dunia ini, termasuk diri kita ini.
Hanya saja setiap kali mendengar berita-berita kematian sering beranggapan kan
itu orang lain, kalau saya kan masih lama, kan masih muda. Padahal kita sendiri
melihat bahwa beberapa teman sebaya juga sudah tutup usia. Bahkan anak-anak
kecil pun sudah banyak yang selesai riwayatnya. Anggapan seperti inilah yang
telah melalaikan diri untuk mengingat akhir dari perjalanan hidup ini. Apalagi
dengan gemerlap kesenangan dunia yang maya, semakin melalaikan akan ajal yang
pasti datang menyapa.
Sebagaimana dianalogikan dalam
sebuah kisah sang pengembara. Ada seorang pengembara yang dikejar-kejar harimau
sehingga ia harus menyelamatkan diri dengan cara meloncat ke dalam jurang. Di dalam
jurang yang cukup dalam itu ia tersangkut oleh akar pohon sehingga tak jadi
jatuh sampai dasar. Sementara itu harimau tetap meraung buas menunggu di mulut jurang.
Kondisinya semakin genting karena di dasar jurang ada seekor ular besar berbisa
yang siap menerkam. Selain itu akar tempat pengembara itu menggantung pun digrogoti beberapa tikus yang besar yang
giginya tajam.
Dalam kondisi genting itu, tiba-tiba
madu menetes dari atas pohon di mulut jurang yang tepat jatuh masuk ke mulut
sang pengembara. Satu, dua, tiga tetes sang pengembara mulai merasakan
nikmatnya madu itu. Lama-lama dalam kondisi tergantung tersebut, sang
pengembara sibuk menikmati tetesan madu yang terus masuk ke mulutnya sehingga
ia melupakan kegentingan yang sedang mengancam dirinya.
Sang pengembara adalah kita manusia
hamba Allah SWT. Harimau dan ular adalah maut yang selalu siap sedia kapan saja
bisa datang menjemput. Akar yang digrogoti
tikus adalah usia yang makin lama, semakin habis. Sementara madu adalah
kesenangan dunia yang melalaikan akan datangnya kematian.
Sahabatku.., ijinkan saya yang lemah
berbagi tulisan untuk mengingatkan diri yang hina ini dan semoga bermanfaat
bagi sahabat semua yang saya cintai. Pada keheningan waktu, sesekali mari
merenungi sejenak, mengevaluasi bagaimana sejatinya perjalanan hidup yang telah
dilalui. Mari menimbang-nimbang kembali sejauh mana berjalan, sudah kah kita
jadi hamba yang bertakwa atau malah
semakin hina. Sepanjang hidup banyak dosanya atau banyak amalnya. Ya rabb..,
ampuni kami atas segala kehinaan dan kemungkaran selama ini.
Ya rabbana…, ampuni mata ini yang
sering kali melihat apa-apa yang engkau murkai. Ampuni mata ini karena lebih senang
menikmati pandangan-pandangan syahwat, yang telah menjauhkan kami dari taat.
Dari mata ini terngiang-ngiang gambaran-gambaran yang Engkau telah engkau
larang. Ampuni lisan kami yang sering berkata kotor dan dusta bahkan menyakiti
orang-orang di sekitar kami, termasuk orang tua kami sendiri.
Ya
Allah…, Engkau Maha Mengetahui.., ampuni setiap dosa dan kemungkaran yang kami
perbuat baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Ampuni setiap perbuatan
keji yang kami lakukakan dalam bilik remang kesendirian. Ampuni
kejahatan-kejahatan hati yang hanya Engkau yang Mengetahui. Amin Ya rabbal
a’lamin.
Sahabatku yang baik, dalam hadits
riwayat Imam Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda “an-Nadamu taubatun”, menyesali perbuatan dosa adalah bagian dari
taubat. Tentunya penyesalan itu akan bernilai taubat jika dilakukan sebelum
maut datang menjemput. Dan melakukan menjemen agar Penyesalan itu mampu menjadi
energi untuk tidak mengulangi perbuatan dosa lagi dan menambah amal-amal
kebaikan.
Berkaitan dengan penyesalan ini, Rasulullah
SAW juga mengingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia kelak dikemudian hari
akan menyesal. Jika dia orang baik, orang yang sholeh, akan menyesal karena kurang maksimal dalam beribadah. Atau
karena tidak beribadah lebih banyak dan lebih bagus dari yang ia lakukan.
Sementara orang yang durhaka kepada Allah SWT akan menyesal karena tidak
berhenti berbuat dosa dari dulu, sebelum kematiannya terjadi.
Al-Qur’an menggambarkan kisah
orang-orang yang durhaka pada Allah SWT, bahwa ketika telah tiba saat-saat
kematian, atau ketika siksa itu menimpa, mereka mengharapkan kembali ke dunia ini
agar dapat beriman dan berbuat amal kebaikan. Mereka memohon agar dikembalikan
lagi ke dunia untuk dapat mengubah hari-hari kelamnya yang telah mereka lalui.
Agar menggantinya dengan hari-hari penuh ketaatan. Hanya saja Allah SWT tidak
mengabulkan permohonan itu. Dan sungguh inilah penyesalan abadi. Nau’dzubillahi mindzalik…
“Ketika kematian itu menjemput salah seorang
dari mereka berkata, ‘Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, aku berharap akan
berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, itu hanyalah
ucapan kosong belaka.’” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan
pada kita agar senantiasa memegang teguh keimanan sehingga hidup dalam istiqomah. Dan insya Allah menjemput
akhir hayat dengan khusnul kahtimah.
Amin
Wallahua’lam
bishawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar