Senin, 01 September 2014

Sebelum Penyesalan Abadi Datang


           
Sering saya merenungi suatu hal besar tentang akhir perjalanan hidup ini. Mrinding, takut dan ngeri rasanya ketika berpikir dalam tentang rahasia agung yang satu ini. Karena tak satu pun orang yang mampu menjamin dirinya bisa happy ending menghadapi detik-detik kematian yang pasti genting. Tak seorang pun yang dapat memastikan bahwa dirinya khusnul khatimah, akhir hayatnya mendapat rahmah. Tak ada satu pun yang mengetahui kapan, dimana dan bagaimana ajal akan datang menghampirinya. Itu semua adalah rahasia Ilahi, yang tersimpan dalam Lauful Mahfudz  yang tiada satu pun makhluk mengetahui. “Ya Allah.., jadikanlah akhir hidup kami ini engkau Ridhai. Dapat bertaubat sebelum mati, mendapat rahmat ketika mati, dan memperoleh ampunan setelah mati. Ya Allah.., mudahkanlah kami menghadapi gelombang sakaratul maut. Bebaskanlah kami dari azab neraka dan memperoleh ampunan ketika kami dihisab". Amin

            Sebenarnya kita paham bahwa kematian dapat berlaku pada siapa saja, makhluk di dunia ini, termasuk diri kita ini. Hanya saja setiap kali mendengar berita-berita kematian sering beranggapan kan itu orang lain, kalau saya kan masih lama, kan masih muda. Padahal kita sendiri melihat bahwa beberapa teman sebaya juga sudah tutup usia. Bahkan anak-anak kecil pun sudah banyak yang selesai riwayatnya. Anggapan seperti inilah yang telah melalaikan diri untuk mengingat akhir dari perjalanan hidup ini. Apalagi dengan gemerlap kesenangan dunia yang maya, semakin melalaikan akan ajal yang pasti datang menyapa.
            Sebagaimana dianalogikan dalam sebuah kisah sang pengembara. Ada seorang pengembara yang dikejar-kejar harimau sehingga ia harus menyelamatkan diri dengan cara meloncat ke dalam jurang. Di dalam jurang yang cukup dalam itu ia tersangkut oleh akar pohon sehingga tak jadi jatuh sampai dasar. Sementara itu harimau tetap meraung buas menunggu di mulut jurang. Kondisinya semakin genting karena di dasar jurang ada seekor ular besar berbisa yang siap menerkam. Selain itu akar tempat pengembara itu menggantung pun digrogoti beberapa tikus yang besar yang giginya tajam.
            Dalam kondisi genting itu, tiba-tiba madu menetes dari atas pohon di mulut jurang yang tepat jatuh masuk ke mulut sang pengembara. Satu, dua, tiga tetes sang pengembara mulai merasakan nikmatnya madu itu. Lama-lama dalam kondisi tergantung tersebut, sang pengembara sibuk menikmati tetesan madu yang terus masuk ke mulutnya sehingga ia melupakan kegentingan yang sedang mengancam dirinya.
            Sang pengembara adalah kita manusia hamba Allah SWT. Harimau dan ular adalah maut yang selalu siap sedia kapan saja bisa datang menjemput. Akar yang digrogoti tikus adalah usia yang makin lama, semakin habis. Sementara madu adalah kesenangan dunia yang melalaikan akan datangnya kematian.

            Sahabatku.., ijinkan saya yang lemah berbagi tulisan untuk mengingatkan diri yang hina ini dan semoga bermanfaat bagi sahabat semua yang saya cintai. Pada keheningan waktu, sesekali mari merenungi sejenak, mengevaluasi bagaimana sejatinya perjalanan hidup yang telah dilalui. Mari menimbang-nimbang kembali sejauh mana berjalan, sudah kah kita jadi hamba yang bertakwa atau  malah semakin hina. Sepanjang hidup banyak dosanya atau banyak amalnya. Ya rabb.., ampuni kami atas segala kehinaan dan kemungkaran selama ini.
            Ya rabbana…, ampuni mata ini yang sering kali melihat apa-apa yang engkau murkai. Ampuni mata ini karena lebih senang menikmati pandangan-pandangan syahwat, yang telah menjauhkan kami dari taat. Dari mata ini terngiang-ngiang gambaran-gambaran yang Engkau telah engkau larang. Ampuni lisan kami yang sering berkata kotor dan dusta bahkan menyakiti orang-orang di sekitar kami, termasuk orang tua kami sendiri.
Ya Allah…, Engkau Maha Mengetahui.., ampuni setiap dosa dan kemungkaran yang kami perbuat baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Ampuni setiap perbuatan keji yang kami lakukakan dalam bilik remang kesendirian. Ampuni kejahatan-kejahatan hati yang hanya Engkau yang Mengetahui. Amin Ya rabbal a’lamin.
            Sahabatku yang baik, dalam hadits riwayat Imam Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda “an-Nadamu taubatun”, menyesali perbuatan dosa adalah bagian dari taubat. Tentunya penyesalan itu akan bernilai taubat jika dilakukan sebelum maut datang menjemput. Dan melakukan menjemen agar Penyesalan itu mampu menjadi energi untuk tidak mengulangi perbuatan dosa lagi dan menambah amal-amal kebaikan.
Berkaitan dengan penyesalan ini, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia kelak dikemudian hari akan menyesal. Jika dia orang baik, orang yang sholeh, akan menyesal  karena kurang maksimal dalam beribadah. Atau karena tidak beribadah lebih banyak dan lebih bagus dari yang ia lakukan. Sementara orang yang durhaka kepada Allah SWT akan menyesal karena tidak berhenti berbuat dosa dari dulu, sebelum kematiannya terjadi.
Al-Qur’an menggambarkan kisah orang-orang yang durhaka pada Allah SWT, bahwa ketika telah tiba saat-saat kematian, atau ketika siksa itu menimpa, mereka mengharapkan kembali ke dunia ini agar dapat beriman dan berbuat amal kebaikan. Mereka memohon agar dikembalikan lagi ke dunia untuk dapat mengubah hari-hari kelamnya yang telah mereka lalui. Agar menggantinya dengan hari-hari penuh ketaatan. Hanya saja Allah SWT tidak mengabulkan permohonan itu. Dan sungguh inilah penyesalan abadi. Nau’dzubillahi mindzalik…
 “Ketika kematian itu menjemput salah seorang dari mereka berkata, ‘Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, aku berharap akan berbuat amal saleh yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak, itu hanyalah ucapan kosong belaka.’” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan pada kita agar senantiasa memegang teguh keimanan sehingga hidup dalam istiqomah. Dan insya Allah menjemput akhir hayat dengan khusnul kahtimah. Amin


Wallahua’lam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar