Minggu, 31 Agustus 2014

Agar Cinta Bersemi Indah


Sahabat muda.., ndengerin kata cinta seketika dunia begitu manis terasa.  Perasaan jiwa seakan bergelora saat bisikan-bisikan tentang cinta menggema. Ngoming tentang cinta memang tak pernah ada matinya.  Kamu pasti pakarnya banget nih tentang makna kata yang satu ini. Bahkan kalau setiap dari kamu ditanya, tentu akan mengeluarkan jawaban versinya masing-masing untuk menjelaskan apa itu cinta. Pada dasarnya cinta memiliki makna yang seluas-luasnya, yaitu curahan perasaan kepada suatu hal yang universal. Misalkan cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada pekerjaan dan lain sebagainya. Cinta model ini didorong oleh faktor kebutuhan jiwa, spirit dan ruhaniyah. Termasuk di dalamnya cinta kepada Allah SWT yang merupakan ujung tertinggi dari hahkikat sejatinya cinta dibandingkan kepada apapun dan siapa pun. Kemudian ada makna cinta dari sudut sempit yaitu perasaan spesial antara dua insan lawan jenis yang sedang memadu kasih. Menurut pakar psikologi ada tiga unsur yang berperan di dalamnya, yaitu keintiman, gairah dan komitmen. Kalo yang satu ini lebih didorong oleh faktor kebutuhan biologis, kedewasaan dan pemenuhan syahwat.
            Oke..kawan, agar lebih bersemangat untuk kesempatan kali ini justru kita akan ngomongin tentang cinta dalam arti sempit, berupa perasaan kasih sayang pada si-dia secara spesial yang merasuki jiwa. Persaan indah yang membuat hidup ini tampak lebih meriah. Perasaan yang membuat orang serasa  berada di taman bunga, walau sebenarnya lagi di kubangan kotoran kuda sekalipun, istilah ekstrimnya -(maap) yaitu tahi kucing rasa coklat. Perasaan yang membuat orang tergila-gila pada yang dicintainya. Wajahnya selalu terbayang, kata-katanya selalu terekam, serta gerak raganya selalu tergambar. Sebagaimana terlukis dalam petikan syair cinta klasik Laila Majnun berikut:
“Setiap hembusan angin membawa harummu untukku. Setiap kicauan burung mendendangkan namamu untukku. Setiap mimpi yang hadir membawa wajahmu untukku. Setiap pandangan menampakkan bayanganmu padaku. Aku milikmu, aku milikmu, jauh maupun dekat. Dukamu adalah dukaku, seluruhnya milikku, dimanapun ia tertambat.”

Janganlah Salah menerapkan cinta
Cinta adalah karunia indah dari Allah SWT yang diberikan kepada ummat manusia. Begitu juga dengan perasaan cinta spesial kepada lawan jenis merupakan kado istimewa yang Allah hadiahkan untuk kita. Perasaan cinta kepada lawan jenislah yang menjaga eksistensi keberlangsungan kehidupan manusia. Bayangin coba, jika perasaan cinta ini tidak ada maka generasi manusia  mungkin sudah punah dari dulu kala. Walau pun demikian jangan salah menerapkan cinta. Cinta itu indah.., so.. pastinya akan menghasilkan yang indah-indah pula. Cinta itu fitrah.., tentunya akan sejalan dengan fitrah manusia jua.

Cinta beda dengan Pacaran
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus merah jambu, ingin rasanya bisa selalu bertemu. Pengin sekali tiap detik dilewati dengan berdua. Saling berbagi kasih dan sayang yang diliputi perasaan yang berbunga-bunga. Bahkan orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja untuk yang dicintainya, semuanya agar si dia makin cinta. Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. “Siapa takut…!!. Lagian pacaran kan sebagai penjajakan sebelum ke jenjang pernikahan”.
            Lha.., inilah yang saya sebut salah menerapkan cinta. Cinta adalah perasaan suci sebagai fitrah manusia yang harus diterapkan pada jalur yang suci pula. Sedangkan pacaran adalah aktivitas jasadiyah, yang justru cenderung menjauhi nilai kesucian cinta, karena mudhoratnya lebih besar ketimbang manfaatnya. Faktanya, pacaran dijadikan sebagai wadah antara dua insan yang kasmaran, untuk  berdua-duan ditempat yang sepi, saling pandang-pandangan, pegang-pegangan, raba-rabaan, bahkan klimaksnya sampai pada pergaulan ilegal (seks). Na’udzubillah.., Agama kita  sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32), "Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton menemaninya." (HR. Imam Bukhari Muslim). Kalo alasannya biar saling mengenal dan memahami karater sebelum menikah, Islam menyediakan fasilitas taaruf sebagai fase penjajakan cocok atau tidaknya sebelum melakukan pernikahan.
            Sebagian orang berkata, “Kan kita bisa ambil alternatif dengan model pacaran Islami..??”.  Wah.., kedengerannya asyik juga nih... Terus terang saya masih bertanya-tanya tentang istilah Pacaran Islami ini. Kadang saya menduga-duga, apakah pacaran Islami itu ketika mau mulai pacaran, laki-lakinya bilang kepada sang pacar, “ dek.., sebelum pacaran kita mulai, agar mendapat berkah dari Alloh SWT, mari kita berdoa terlebih dulu: bi barakaati alfaatihah...”. Kemudian kalau pacarannya dah selesai dia berkata kembali pada sang pacar, “Mari kita tutup pacaran kita hari ini dengan doa kafartul majelis”. hehe...., Pada dasarnya selagi aktivitasnya mengarah pada lintasan pertemuan kebutuhan nafsu,  walaupun dilakukan tidak secara langsung mungkin melalui sms-sms-an, telpon-telponan, maupun chating-chatingan itu namanya tetep sama saja. 

Menikah adalah jalur fitrahnya cinta
            Menikah adalah jalur yang sebenarnya untuk menerapkan cinta. Indah nian cinta yang diuntai melalui pernikahan. Bayangin men.., apa yang diharamkan terhadap lawan jenis,  dengan menikah menjadi halal bahkan bernilai pahala. Memandang wajahnya adalah pahala, menggandeng tangannya adalah pahala, bermesraan dengannya adalah pahala, bahkan lebih dari pada itu semua adalah pahala. Subhanallah.., pengin nda??. Inilah sejatinya penerapan cinta kepada lawan jenis. Cinta yang dengannya menggenapkan separu agama dan mendekatkan kita pada Rabb-Nya. Cinta yang dengannya terjaga eksitensi kehidupan generasi manusia. Cinta yang senantiasa bersemi indah, bukan hanya saat di dunia saja, tapi juga akan sampai akhirat kelak. Karena cinta ini akan tetap sejati dari hidup sampai mati, bahkan sampai hidup lagi.
            Tapi bagaimana kalau belum mampu menikah?. Rasulullah SAW memberi resep jitu: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
            Terus bagaimana kalo dah kadung kasmaran dan terbiasa pacaran? Kalau memungkinkan tuk bisa ke jenjang pernikahan, maka menikahlah segera sebelum terlambat. Pacarannya dilanjutin lagi setelah menikah, suer…, akan lebih asyik dan lebih indah. Tapi Kalo ndak mungkin untuk menikah segera, maka mau ndak mau harus komitmen tuk stop aktivitas pacaran. Mari berdoa pada Alloh, “ Ya Alloh.., jika dia memang jodohku, maka  pertemukan kami pada saat yang tepat kelak. Tapi.., kalo dia bukan jodohku, maka.. jodohkanlah.., eh.., gantilah dia dengan yang terbaik menurutmu pada saatnya kelak”.


Wallahu ‘alam bishawab 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar