Sahabat muda.., ndengerin kata cinta seketika dunia
begitu manis terasa. Perasaan jiwa seakan
bergelora saat bisikan-bisikan tentang cinta menggema. Ngoming tentang cinta
memang tak pernah ada matinya. Kamu
pasti pakarnya banget nih tentang makna kata yang satu ini. Bahkan kalau setiap
dari kamu ditanya, tentu akan mengeluarkan jawaban versinya masing-masing untuk
menjelaskan apa itu cinta. Pada dasarnya cinta memiliki makna yang
seluas-luasnya, yaitu curahan perasaan kepada suatu hal yang universal.
Misalkan cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada pekerjaan
dan lain sebagainya. Cinta model ini didorong oleh faktor kebutuhan jiwa,
spirit dan ruhaniyah. Termasuk di dalamnya cinta kepada Allah SWT yang
merupakan ujung tertinggi dari hahkikat sejatinya cinta dibandingkan kepada
apapun dan siapa pun. Kemudian ada makna cinta dari sudut sempit yaitu perasaan
spesial antara dua insan lawan jenis yang sedang memadu kasih. Menurut pakar
psikologi ada tiga unsur yang berperan di dalamnya, yaitu keintiman, gairah dan
komitmen. Kalo yang satu ini lebih didorong oleh faktor kebutuhan biologis,
kedewasaan dan pemenuhan syahwat.
Oke..kawan,
agar lebih bersemangat untuk kesempatan kali ini justru kita akan ngomongin
tentang cinta dalam arti sempit, berupa perasaan kasih sayang pada si-dia
secara spesial yang merasuki jiwa. Persaan indah yang membuat hidup ini tampak
lebih meriah. Perasaan yang membuat orang serasa berada di taman bunga, walau sebenarnya lagi
di kubangan kotoran kuda sekalipun, istilah ekstrimnya -(maap) yaitu tahi
kucing rasa coklat. Perasaan yang membuat orang tergila-gila pada yang
dicintainya. Wajahnya selalu terbayang, kata-katanya selalu terekam, serta
gerak raganya selalu tergambar. Sebagaimana terlukis dalam petikan syair cinta
klasik Laila Majnun berikut:
“Setiap hembusan angin membawa harummu untukku.
Setiap kicauan burung mendendangkan namamu untukku. Setiap mimpi yang hadir
membawa wajahmu untukku. Setiap pandangan menampakkan bayanganmu padaku. Aku
milikmu, aku milikmu, jauh maupun dekat. Dukamu adalah dukaku, seluruhnya
milikku, dimanapun ia tertambat.”
Janganlah Salah menerapkan cinta
Cinta adalah karunia indah dari Allah SWT yang diberikan kepada ummat
manusia. Begitu juga dengan perasaan cinta spesial kepada lawan jenis merupakan
kado istimewa yang Allah hadiahkan untuk kita. Perasaan cinta kepada lawan
jenislah yang menjaga eksistensi keberlangsungan kehidupan manusia. Bayangin
coba, jika perasaan cinta ini tidak ada maka generasi manusia mungkin sudah punah dari dulu kala. Walau pun
demikian jangan salah menerapkan cinta. Cinta itu indah.., so.. pastinya akan
menghasilkan yang indah-indah pula. Cinta itu fitrah.., tentunya akan sejalan
dengan fitrah manusia jua.
Cinta beda dengan Pacaran
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus merah jambu, ingin
rasanya bisa selalu bertemu. Pengin sekali tiap detik dilewati dengan berdua.
Saling berbagi kasih dan sayang yang diliputi perasaan yang berbunga-bunga. Bahkan
orang yang lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela
ngelakuin apa aja untuk yang dicintainya, semuanya agar si dia makin cinta.
Sampe' akhirnya....... pacaran yuk. “Siapa takut…!!. Lagian pacaran kan sebagai
penjajakan sebelum ke jenjang pernikahan”.
Lha.., inilah yang saya sebut salah
menerapkan cinta. Cinta adalah perasaan suci sebagai fitrah manusia yang harus
diterapkan pada jalur yang suci pula. Sedangkan pacaran adalah aktivitas
jasadiyah, yang justru cenderung menjauhi nilai kesucian cinta, karena
mudhoratnya lebih besar ketimbang manfaatnya. Faktanya, pacaran dijadikan
sebagai wadah antara dua insan yang kasmaran, untuk berdua-duan ditempat yang sepi, saling pandang-pandangan,
pegang-pegangan, raba-rabaan, bahkan klimaksnya sampai pada pergaulan ilegal
(seks). Na’udzubillah.., Agama kita sudah jelas menyatakan: "Dan janganlah
kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan
suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32), "Janganlah seorang
laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaiton
menemaninya." (HR. Imam Bukhari Muslim). Kalo alasannya biar saling
mengenal dan memahami karater sebelum menikah, Islam menyediakan fasilitas
taaruf sebagai fase penjajakan cocok atau tidaknya sebelum melakukan pernikahan.
Sebagian
orang berkata, “Kan kita bisa ambil alternatif dengan model pacaran Islami..??”.
Wah.., kedengerannya asyik juga nih...
Terus terang saya masih bertanya-tanya tentang istilah Pacaran Islami ini.
Kadang saya menduga-duga, apakah pacaran Islami itu ketika mau mulai pacaran,
laki-lakinya bilang kepada sang pacar, “ dek.., sebelum pacaran kita mulai,
agar mendapat berkah dari Alloh SWT, mari kita berdoa terlebih dulu: bi
barakaati alfaatihah...”. Kemudian kalau pacarannya dah selesai dia berkata
kembali pada sang pacar, “Mari kita tutup pacaran kita hari ini dengan doa
kafartul majelis”. hehe...., Pada dasarnya selagi aktivitasnya mengarah pada
lintasan pertemuan kebutuhan nafsu,
walaupun dilakukan tidak secara langsung mungkin melalui sms-sms-an,
telpon-telponan, maupun chating-chatingan itu namanya tetep sama saja.
Menikah adalah jalur fitrahnya cinta
Menikah
adalah jalur yang sebenarnya untuk menerapkan cinta. Indah nian cinta yang
diuntai melalui pernikahan. Bayangin men.., apa yang diharamkan terhadap lawan
jenis, dengan menikah menjadi halal
bahkan bernilai pahala. Memandang wajahnya adalah pahala, menggandeng tangannya
adalah pahala, bermesraan dengannya adalah pahala, bahkan lebih dari pada itu semua
adalah pahala. Subhanallah.., pengin nda??. Inilah sejatinya penerapan cinta
kepada lawan jenis. Cinta yang dengannya menggenapkan separu agama dan
mendekatkan kita pada Rabb-Nya. Cinta yang dengannya terjaga eksitensi
kehidupan generasi manusia. Cinta yang senantiasa bersemi indah, bukan hanya saat
di dunia saja, tapi juga akan sampai akhirat kelak. Karena cinta ini akan tetap
sejati dari hidup sampai mati, bahkan sampai hidup lagi.
Tapi
bagaimana kalau belum mampu menikah?. Rasulullah SAW memberi resep jitu: "Wahai
generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah.
Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan
memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka
hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan
gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Terus bagaimana kalo dah kadung
kasmaran dan terbiasa pacaran? Kalau memungkinkan tuk bisa ke jenjang
pernikahan, maka menikahlah segera sebelum terlambat. Pacarannya dilanjutin
lagi setelah menikah, suer…, akan lebih asyik dan lebih indah. Tapi Kalo ndak
mungkin untuk menikah segera, maka mau ndak mau harus komitmen tuk stop
aktivitas pacaran. Mari berdoa pada Alloh, “ Ya Alloh.., jika dia memang
jodohku, maka pertemukan kami pada saat yang
tepat kelak. Tapi.., kalo dia bukan jodohku, maka.. jodohkanlah.., eh..,
gantilah dia dengan yang terbaik menurutmu pada saatnya kelak”.
Wallahu
‘alam bishawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar