Didalam
sejarah Islam banyak sekali catatan emas pemuda-pemuda hebat yang telah
mengguncang dunia hingga akhirat. Usia mereka dapat dibilang masih belia tapi
telah mampu menorehkan karya agung nan luar biasa. Ada Sa’ad bin Abi Waqash, seorang
ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun.
Ia dikenal sebagai pemanah terbaik. Ada juga Usamah bin Zaid, namanya terkenal
harum sejak usia 12 tahun, seorang pemuda muslim yang kuat. Rasulullah
menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada
perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan
gemilang.
Juga Mush'ab bin Umair. Ia seorang pemuda Islam dari
Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.
Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang
warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum." Mush'ab lahir dan
dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak
seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh
kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush'ab bin Umair. Tapi Mush'ab bin
Umair lebih memilih menjadi seorang pejuang sejati. Selain itu yang tak kalah
terkenalnya adalah kisah heroik Muhammad Al-Fatih. Pada usia 24 tahun ia telah
mampu memimpin pasukan menaklukan Konstatinopel. Sesorang yang telah mampu
mewujudkan mimpi besar Rasulullah SAW ratusan tahun sebelumnya. Dan tentunya
masih banyak lagi catatan emas sejarah lainnya tentang generasi muda muslim
yang gagah berani.
Sahabatku yang baik.., coba renungkan bersama usia mereka
jika disematkan kepada pemuda kita hari ini. Sebagian besar pemuda dengan usia
yang sama hari ini bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja masih belum
sepenunya mampu. Apalagi harus mengurusi hal-hal besar berupa buah karya yang
berguna bagi ummat, bangsa dan negara.
Mereka lebih memilih menikmati kesenangan-kesenangan semu yang melalaikan, yang
menjauhkan mereka dari berkembangnya potensi-potensi dalam diri. Kalau dulu
Bung Karno pernah berkata, “Berikan padaku sepuluh orang pemuda, maka akan ku
guncang dunia”. Melihat realita pemuda zaman sekarang ini, kata-kata beliau
sering diplesetkan, “Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka akan ku buat group
Boysband”.
Sebenarnya apa itu itu dewasa? Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, dewasa adalah mencapai usia akil baligh, yaitu bukan anak-anak
ataupun remaja lagi. Sedangkan menurut Islam, seseorang baik perempuan maupun
laki-laki dikatakan dewasa atau baligh apabila seseorang tersebut sudah
mengalami haid bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki. Seorang yang
baligh telah dianggap mampu menentukan arah dirinya sendiri. Seorang yang
baligh juga berkaitan dengan istilah mukallaf, artinya orang yang telah siap
dibebani dengan kewajipan dan perintah untuk menjalankan agama serta menjauhi
larangan-Nya. Dewasa juga berarti matang. Baik matang secara biologis, maupun
secara psikis. Sehingga bisa dikatakan tidak perlu menunggu tua untuk menjadi
dewasa.
Dewasa kaitannya erat dengan kematangan sedangkan tua
kaitannya sangat erat dengan pertambahan usia. Tanpa berbuat apapun seseorang
pasti akan tua. Tapi tak semua orang yang tua pasti dewasa. Buah pikir dari
dewasa adalah cemerlangnya ide dan gagasan yang menjulang. Kakinya berpijak di
bumi angan-angan mulianya membumbung tinggi sampai penjuru langit. Hasil
tindakan nyata dari kedewasaan adalah karya-karya besar yang berguna. Sifat
dari kedewasaan adalah tahan banting dan tak mudah menyerah. Bisa jadi
seseorang telah tua, tetapi pikiran dan tidakannya masih kekanak-kanakan. Dan
bisa jadi pula usia masih belasan atau dua puluhan tapi gagasan, ide dan
karyanya telah berguna bagi banyak orang.
Sahabatku yang shaleh dan sahleha..., sudah jelas bahwa
tua adah kepastian tapi dewasa adalah pilihan. Tanpa ngapa-ngain kita pasti
akan menjadi tua, tapi untuk menjadi dewasa kita harus berusaha. Berikut beberapa
hal yang bisa dijadikan bahan belajar untuk menjadi dewasa, antara lain:
Ø
Rajin mengevaluasi diri apa adanya (kekuatan dan
kelemahan) sebelum mengevaluasi orang lain, sekaligus mau mengakui kelemahan
diri kita
Ø
Berusaha mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Ø
Menunjukkan kerendahan hati namun tidak rendah diri
kecuali di hadapan Allah SWT
Ø
Selalu menambah ilmu pengetahuan dan kapasitas diri.
Ø
Menghormati dan menghargai orang lain.
Ø
Memupuk rasa empati kepada sesama.
Ø
Mensyukuri apapun yang diberikan Allah SWT.
Demikian sahabat, semoga goresan pena yang sedikit ini
dapat bemanfaat bagi kita semua agar lebih memilih menjadi dewasa sebelum kita
tua.
Wallahu’alam
bishawwab..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar