Minggu, 31 Agustus 2014

Mengubah Galau Jadi Kemilau


Dikisahkan dalam  sejarah perjuangan Rasulullah SAW, pada kisaran tahun 5 H berkecamuklah perang Khondak, yang  sering juga disebut dengan perang Al Ahzab (sekutu). Disebut Al Ahzab dikarenakan kaum muslimin menghadapi kekuatan konspirasi besar koalisi antara Yahudi dengan Musyrikin Quraisy yang berjumlah 10.000 orang pasukan. Sedangkan pasukan muslim saat itu hanya berjumlah 700an prajurit, perbandingannya 1:14. Dengan tujuan menghambat musuh yang jumlahnya jauh lebih besar itu, sahabat Salman Al Farisy menawarkan strategi pembuatan parit di luar kota Madinah. Strategi ini disepakati oleh Rasulullah SAW, dan proyek pembuatan parit pun segera dilaksanakan secara swadaya. Kemudian Salman Al Farisy, sang punya ide  ditunjuk langsung sebagai koordinator pelaksana proyek tersebut.

 Menurut Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Athlas Hadits, dalam penggalian itu, kaum Muslimin berhasil menggali parit sepanjang 5.544 meter dengan lebar 4,62 meter dan kedalaman parit mencapai 3,23 meter.  Penggalian itu membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Bisa dibayangkan betapa sulitnya situasi yang dihadapi kaum muslimin saat itu dan betapa besarnya tenaga pengorbanan yang harus dikeluarkan oleh mereka dalam menjalankan tugas mulia demi kejayaan agama. Tentunya dalam proses pengerjaan parit tersebut rasa lelah, haus, dan lapar selalu menyertai. Bahkan dikisahkan sampai-sampai Rasulullah SAW harus mengganjal perutnya dengan 2 buah batu untuk melawan gejolak perut kerocongan karena kelaparan.
Pada saat penggalian parit hampir selesai, mereka menemukan sebuah batu besar yang susah sekali dipecah. Lalu para sahabat meminta Rasulullah SAW untuk memecahkannya. Sambil mengayunkan kapak memukul batu tersebut, Rasulullah SAW berseru diantara percikan api yang keluar dari batu, ” Akan terkuasailah Romawi.., akan terkuasailah Persi…”. Seruan Rasulullah SAW tersebut disambut dengan pekikan takbir “Allahu Akbar” oleh para sahabatnya. Lalu terpecahlah batu besar itu berkeping-keping dan selesailah proyek pembuatan parit. Para sahabat benar-benar terinspirasi kata-kata beliau, untuk semakin greget dalam perjuangan. Sebagian Sahabat tercengang dan bertanya dalam hatinya dengan apa yang baru saja dikatakan Rasulullah.., apa  iya kita bisa menanklukan Romawi dan Persi?. Sebagai gambaran Romawi dan Persi adalah negara adikuasa saat itu. Mungkin seperti Amerika Serikat atau Israel saat ini.
Akhir dari kisah perang Khandak tersebut atas pertolongan Allah SWT, kaum muslimin memenangi peperangan tanpa pertempuran fisik yang berarti. ***

 Sahabat muda…, orang yang biasa-biasa saja ketika menghadapi situasi sulit, baik berupa ujian, musibah maupun bencana akan merasa galau dan menjalaninya dengan ratapan penderitaan yang berkepanjangan. Saking galaunya, yang terjadi adalah  kesulitan seolah makin bertambah besar dan semakin tak bisa diatasi. Sebaliknya, kekutan diri untuk melawan kondisi yang ada dan bangkit dari keterpurukan semakin kecil dan lama-lama menghilang.  Pada titik akhir, mereka menyerah pada keadaan, dan kalah dengan kondisi yang mereka alami.
Berbeda dengan orang yang luar biasa mereka mampu mengubah kondusi sulit menjadi titik balik kebangkitan. Penderitaan yang mereka hadapi mampu menjadi inspirasi munculnya kekuatan untuk bertahan dan melawan keadaan. Kondisi tertekan justru memancarkan “the power of kepepet” sehingga menjadikan dirinya semakin berkualitas dan bertambah cerdas menghadapi situasi-situasi sulit berikutnya.
Kisah perang Khandak menginspirasi kita untuk berusaha bertahan dalam kondisi sulit. Bukan hanya itu, bahkan mampu mengubah penderitaan jadi sumber energi tuk membangun impian-impian besar yang baru. Dalam kondisi darurat, Rasulullah justru menyerukan impiannya, suatu saat Romawi dan Persi akan terkusai. Padahal secara manusiawi, menaklukan Romawi dan Persi sebagai Negara adikuasa saat itu merupakan “mission imposible”. Tapi dengan seruan beliau tersebut para sahabat semakin yakin suatu saat Romawi dan Persi akan jatuh ke pangkuan Islam.
 Dan benar-benar terjadi…. Hanya butuh waktu 14 tahun pada masa Khalifah Umar bin Khatab Persi pun jatuh ke pangkuan Islam. Romawi juga akhirnya jatuh ke pangkuan Islam walau butuh waktu agak lama sekitar 836 tahun. Dalam misi pasukan Muslimin di bawah komando Muhammad Al-Fatih, yang kisah perjuangannya telah menggemparkan dunia sampai saat ini. Walau secara spiritual tentunya keberhasilan ini karena Allah SWT  yang telah memberi pertolongan, namun secara manusiawi keberhasilan ini dikarenakan seruan motivasi impian Rasulullah yang inspiratif.
Sahabatku.., Sepanjang perjalanan hidup manusia sudah pasti akan diwarnai situasi suka mapun duka, perasaan damai maupun galau. Tak ada manusia yang terhindar dari kesulitan yang bisa berwujud ujian, musibah, ataupun bencana. Setiap kisah kehidupan manusia pastinya akan terdapat penggalan cerita penderitaan atau kesedihan. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya adalah bagimana cara menyikapi situasi-situasi tersebut. Semua manusia tentunya mengingnkan agar sukses menghadapi kesulitan dan menjadi pribadi yang unggul karena lulus dari kesulitan tersebut.
Ada tiga syarat utama agar kita mampu mengubah bencana berbalik menjadi karunia, musibah menjadi berkah, dan situasi galau membuat kualitas diri makin kemilau.
Yang pertama, introspeksi diri (muhasabah). Sebagai manusia biasa sudah pasti kita melakukan banyak sekali dosa dan kekhilafan. Bisa jadi kesulitan-kesulitan dikirim Allah untuk menghentak jiwa-jiwa yang terlalai dan terbius dalam pelukan kemaksiatan yang terus menerus dilakukan. Karena Alloh mencintai kita, karena Allah menginginkan kita kembali pada jalan lurus keimanan. Introspeksi diri akan berbuahkan taubat dan akan kembali mendekatkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Kedekatan pada Allah inilah yang akan men-suplay energy baru untuk segera bangkit dari situasi sulit.
Yang kedua, mintalah pertolongan kepada Allah SWT. Karena Dialah satu-satunya Sang Penolong Sejati. Tiada kekutan apapun yang dapat menandingi kekutan pertolongan Allah SWT. Maka dengan prinsip kepada Allah kita beribadah, dan kepada-Nya pula kita memohon pertolongan, setiap kesulitan yang dihadapi insya Allah akan segera berlalu.
Yang ketiga, bekerja keras. Tiada hal lain setelah kita memasrahkan sepenuhnya pada Sang Khalik kecuali bekerja keras…., bekerja keras dan bekerja keras. Karena dengan kesungguhan amal dan kerja keras akan membawa pada jalan keluar yang makin cerah. Dan kebangkitan pun akan segera terwujud, bukan hanya itu bahkan  kita akan menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan unggul karena telah melewati berbagai rintangan kehidupan.

Wallahua’lam bishshowab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar