Kawan.., beberapa
waktu yang lalu teman-teman kita kelas IX SMP dan kelas XII SMA baru saja
menempuh Ujian Nasional tahun 2016. Ujian Nasional merupakan evaluasi tahap
akhir yang dilaksanakan secara nasional dan serentak di seluruh wilayah
Indonesia. Tujuan dari ujian ini, tidak lain adalah sebagai bentuk standarisasi
nilai yang diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) kepada semua sekolah tanpa memandang status sekolah negeri atau
swasta, di perkotaan ataupun di pelosok desa. Semua mendapat aturan yang sama,
porsi yang sama, mengikat, jelas, dan tegas.
UN
berfungsi sebagai “quality control”
terhadap sistem pendidikan di negeri ini. UN juga digunakan untuk mengukur
pencapaian hasil belajar siswa; mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional,
provinsi, kabupaten atau kota, dan tingkat sekolah/madrasah. Adapun alasan tetap diakannya Ujian Nasional
yaitu, pertama, sebagai standarisasi mutu dan kualitas pendidikan secara
nasional; Kedua, sebagai motivasi kepada siswa untuk rajin
dan giat belajar; dan ketiga, sebagai motivasi bagi guru untuk meningkatkan
kualitas dalam proses belajar mengajar. Selain beberapa hal tersebut, adanya Ujian Nasional
juga diharapkan dapat
menumbuhkan pendidikan berkarakter bagi siswa seperti: jujur, disiplin, kerja keras, mandiri dan relejius.
Sahabat sekalian.., Ujian Nasioanal
sebenarnya hanya sebagian kecil dari perjalanan menuntut ilmu seorang pelajar
di sekolah. UN pun hanya berlangsung sekitar empat hari saja, sedangkan
menuntut ilmu di sekolah membutuhkan jangka waktu yang cukup panjang. Diantara
perjalanan waktu yang panjang itu juga terdapat masa-masa evaluasi, observasi,
ulangan, tes dan ujian lainnya. Semua itu dipandang hanya bermuara pada satu
tujuan yaitu tercapaianya nilai akademik. Nilai akademik ini biasanya dijadikan
dasar peniliain terhadaap seorang siswa dan tidak sedikit yang menjadikannya
sebagai indikator penerimaan di jenjang sekolah selanjutnya. Pada akhirnya masyarakat pun memandang nilai
akademik menjadi salah satu hal terpenting dalam pendidikan.
Menurut saya, ada tiga model orang
memandang nilai akademik ini. Golongan yang pertama memandang nilai akademik
adalah segala-galanya. Ia adalah satu-satunya indikator keberhasilan seseorang
dalam menempuh pendidikan di sekolah. Karena itulah mereka biasanya hanya fokus
pada pencapaian akademik ini. Segala cara mereka lakukan agar mendapatkan nilai
yang baik. Dari cara yang biasa sampai yang yang tak biasa, dari cara yang
wajar sampai cara yang tak wajar. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar
memperoleh nilai akademik yang memuaskan.
Cara yang biasa dilakukan dengan belajar keras, bahkan kadang sampai lupa
waktu karena harus terus belajar. Itupun masih ngikut bimbel dimana-mana. Bahkan
ada yang hampir setiap mapel pun punya bimbelnya sendiri-sendiri. Pelajar model
begini mereka jarang menikmati “kehidupan” di luar. Waktunya habis berkutat
dengan buku dan materi pelajaran, sehingga sering pelajar seperti ini disebut
dengan julukan “Si Kutu Buku”.
Cara yang tak biasa ditempuh dengan melakukan tindakan yang curang. Karena
memandang bahwa akademik satu-satunya hal yang terpenting, maka segala cara
dilakukan. Termasuk dengan cara nyontek dengan berbagai taktik-taktik
percontekan. Ada pula yang model dengan melihat jawaban teman. Bukan hanya itu,
bahkan ditengarai kadang ada instruksi agar siswa yang pandai membantu siswa
yang kurang. Maka tidak jarang ada
kertas-kertas terbang yang melintas di langit kelas. Selain itu pula karena
memandang pentingnya nilai sementara sadar kemampuan diri terbatas, maka
mencari jalan-jalan praktis, misalnya dengan joki maupun membeli penawaran
kunci jawaban.
Cara yang tak wajar untuk memperoleh nilai akademik yang memuaskan biasanya
menggunakan model-model yang nyleneh.
Misal ada anjuran untuk membakar kertas materi pelajaran kemudian abunya
dibikin bubuk kaya kopi, lalu diminum. Konon materi yang ada di kertas lalu
diminum akan terserap ke otak. Ada juga yang semakin nyeleneh dengan cara mandi
kembang, agar mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan soal. Ada lagi dengan
cara menjampi-jampi pensil biar bisa bergerak sendiri memilih jawaban yang
benar. Serta masih banyak cara aneh lainnya gara-gara mengejar nilai yang
tinggi.
Golongan kedua, memandang nilai
akademik sama sekali tak penting dan tak ada gunanya. Mereka beralasan bahwa kesusksesan
seseorang di masa depan tidak ditentukan oleh nilai akademik. Mereka banyak
berprinsip yang terpenting dari pendidikan yaitu menjadikan seseorang
memiliki ketrampilan, akhlaknya baik dan
sholeh dalam beragama. Akademik hanyalah pelengkap agar mendapatkan pengakuan
resmi berupa ijazah. Oleh karena itu, dalam belajar biasanya sekenanya, tanpa
ambisi untuk memperoleh yang baik apalagi mengejar juara.
Golongan ketiga, memandang bahwa nilai akademik hanyalah bagian sarana
mendapatkan kebaikan, ia adalah bukti insan mana yang memiliki optimisme dan
daya juang. Golongan ini tak memandang akademik sebagai yang terpenting
segala-galanya, juga tak memandangnya dengan remeh sebelah mata. Mereka sangat
memahami ilmu pengetahuan yang dihasilkan
dari akademik adalah bagian dari bangunan peradaban. Ia adalah bagian untuk memperoleh
derajat kemuliaan dunia akhirat jika digunakan sesuai aturan. Mereka tidak menghalalkan
segala cara dan melakukan cara-cara yang
negatif untuk memperoleh nilai yang baik. Tetapi mereka menyiapkannya dengan
penuh keseriusan dan kerja keras agar mencapai yang terbaik, tanpa melupakan
waktu-watu yang lain terutama untuk beribadah.
Sahabat Muda Muslim.., saya sering menyampaikan kepada teman-teman pelajar,
terutama kepada para aktivis Rohis. Sebagai pelajar muslim kita harus punya
nilai akademik yang tinggi. Sebagai generasi muslim kita malu kalau agama ini
generasinya tertindas secara akademik. Memiliki nilai akademik yang tinggi
adalah bagian kemuliaan kita sebagai penerus generasi mulia. Bukan kah ilmu
pengetahuan adalah hikmah milik kaum muslimin, dan generasi muslim harus
mengambil alihnya kembali. Oleh karena itu, memiliki akademik yang tinggi
adalah bagian yang harus kita punya disamping kuatnya keimanan kita pada Allah
SWT, akhlak yang mulia dan memiliki berbagai potensi dalam berbagai
keterampilan kehidupan.
Wallahu’alam
bishshawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar