Membahas “istilah
generasi muda” memang ndak pernah ada akhirnya. Kata “Pemuda” sering digunakan
untuk mewakili istilah generasi muda yang di dalamnya terdapat kaum laki-laki
dan perempuan. Walaupun dalam kehidupan
berbahasa kadang sering dibedakan antara pemuda dan pemudi berdasarkan jenis
kelaminnya, tapi pada dasarnya kata “pemuda” telah mewakili kedua-duanya. Kata pemuda memiliki banyak versi makna. Secara
umum disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pemuda bermakna setiap
orang yang masih muda. Sedangkan lebih detail disebut dalam Undang-Undang Nomor
40 tahun 2009 tentang kepemudaan, mendefinisikan pemuda adalah mereka yang
berusia antara 16 tahun hingga 30 tahun. Selain itu, secara psikologis mendengar
kata “pemuda” akan membuat orang berpikir tentang sosok yang memiliki energi lebih,
semangat membara, kekuatan yang tiada habisnya, daya kreasi yang tak pernah henti,
dan generasi penerus kepemimpinan di masa depan. Secara garis besar dapat kita simpulkan
bahwa pemuda adalah mereka yang sedang berada pada usia produktif, berkembang
dan bergerak terus menuju kemapanan fisik maupun mental.
Berdasarkan hasil
Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun
2010, jumlah penduduk Indonesia yang berusia dalam rentang 16 sampai 30 tahun
berjumlah sekitar 62 juta jiwa atau lebih dari 26 persen jumlah total penduduk
Indonesia pada tahun tahun tersebut. Ini merupakan
presentase yang amat besar. Coba bayangkan begitu besarnya jumlah dan potensi pemuda
di tanah air ini. Akan begitu hebatnya negeri ini jika setiap potensi pemuda
terarahkan untuk kebaikan. Tapi sebaliknya, bisa hancur negeri ini jika pemuda-pemudanya
malah melakukan pembobrokan terhadap potensi-potensi yang mereka miliki.
Sebagaimana seorang ulama pernah berpendapat, bahwa kebaikan suatu bangsa akan bergantung
pada kebaikan akhlak pemudanya. Hal ini membuktikan bahwa pemuda adalah subjek
vital yang memegang parananan penting dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Sahabat sekalian…, berdasarkan
tingkah laku, jalan hidup dan peranan yang mereka lakukan di jaman modern ini,
generasi muda digolongkan menjadi tiga kelompok:
Pertama, pemuda yang salah arah
Tipe generasi muda
yang pertama ini adalah mereka yang kadung berada di area hitam, dan sepertinya
sulit sekali untuk kembali ke arah yang benar. Mereka menganggap dunia
merekalah yang mereka cari selama ini. Dunia seperti ini biasanya tak jauh
kaitannya
dengan pergaulan bebas, club malam, pesta mabuk-mabukan, pesta narkoba, kumpul
kebo dan tindak kemaksiatan lainnya. Mereka anggap dengan dunianya itu mereka
mendapatkan kebahagiaan sejati yang selama ini diidam-idamkan. Bisa jadi, akan tiba suatu
waktu dimana terlintas di pikiran mereka, muncul
kesadaran
bahwa apa yang mereka jalani merupakan suatu hal yang buruk, tapi perasaan
“kadung nyemplung” dan “jeratan ketagihan” membuat mereka sulit sekali ke luar
dari area ini.
Kelompok ini akan
sadar sesadar-sadarnya bahwa apa yang mereka lakukan itu keliru, setelah penyesalan besar datang menghampiri. Bagi
mereka yang kumpul kebo akan sadar, jika telah hamil di luar nikah atau
tertular HIV. Bagi mereka yang suka pesta narkoba akan sadar jika telah sakauw
dan ketagihan yang luar biasa. Saat itulah hati kecil mereka meronta dan
bergejolak kepengin rasanya kembali ke jalan yang benar. Tetapi, itu semua pun belum
tentu bisa menghantarkan mereka kembali 100% kepada arah kebaikan.
Yang perlu jadi
peringatan adalah tidak semua yang masuk ke dalam kelompok ini karena
keinginannya sendiri, kadang ada yang dijebak, kadang ada pula karena iseng
saja ingin coba-coba. Akan tetapi setelah jeratan-jeratan syetan menghujam jiwa,
mereka sudah hampir tak bisa lepas lagi dari area hitam ini. Maka untuk keburukan
dan kejahatan.., janganlah coba-coba !.
Kedua, Pemuda yang tak tentu arah
Tipe generasi muda
yang kedua ini adalah mereka yang ngambang,
seperti tak punya visi hidup sendiri. Apa yang mereka lakukan tergantung
kekuatan besar yang ada di sekeliling mereka. Lingkungan memiliki peranan
penting dalam membentuk kelompok yang satu ini. Posisi mereka selalu
terombang-ambing terbawa gelombang. Mudah terbang mengikuti angin mana yang berhembus.
Inilah generasi muda yang penuh dengan kebimbangan. Masih dalam masa pencarian
dan masih labil menjalani kehidupan.
Jika mereka berada
pada lingkungan masjid yang kuat pengaruhnya, mereka menjadi sosok pemuda
sholeh dan sholehah yang rajin beribadah. Bahkan bergabung jadi pengurus remaja
masjid dan berperan pula sebagai asisten pengajar TPA. Akan tetapi ketika
mereka berada di lingkungan lain, di sisi kehidupan yang lain, dimana yang muncul arus kekuatan pergaulan
bebas dan kumpul kebo sebagaimana yang dilakukan kelompok pemuda yang salah
arah, maka mereka pun enjoy untuk bergabung,
mengikuti dan menikmati keberadaanya di lingkungan itu. Sehingga sering muncul
istilah “Sholat oke…, maksiat jalan terus..”.
Oleh
karena itu, tidak mengherankan jika ada pemuda kalm, eh ternyata ketangkap
basah nyimpen video porno di HPnya. Ada gadis berjilbab yang keliatanya
sholehah, eh…ternyata hamil di luar nikah. Ada pelajar yang sepertinya
biasa-biasa saja, eh.., ternyata kejerat narkoba. Dan masih banyak eh…ternyata
– eh…ternyata yang lainnya. Iiih.., Ngeri ya !
Ketiga, pemuda yang punya arah
Tipe generasi muda
yang ketiga ini adalah mereka yang memiliki visi hidup yang jelas, yang
senantiasa dalam rel kebaikan. Mereka adalah kelompok pemuda visoner yang memiliki tekat kuat
untuk mewujudkan impian dan cita-citanya. Mereka sudah memahami betul potensi
apa saja yang ada dalam dirinya dan kemana potensinya tersebut harus diarahkan.
Dengan begitu mereka senantiasa menggunakan waktu dalam manajemen yang baik,
tanpa membuangnya dengan kesia-siaan. Mereka terus belajar, berjuang dan berkarya.
Oleh karena itu, dengan kerja kerasnya mereka akan tampil menjadi sosok
pemuda-pemuda yang berprestasi.
Model
pemuda seperti inilah yang menjadi pemuda harapan. Merekalah yang sesungguhnya
paling cocok untuk menjalankan amanah sebagai penerus estafet kepemimpinan di
negeri ini. Selain secara pribadi mereka telah mantap, baik mantap secara
moral, intelektual maupun spiritual, mereka juga punya kepedulian untuk berperan
memperbaiki lingkungan sekitar. Rasa empati dan tanggungjawab telah memanggil
mereka untuk senantiasa tampil dalam peran-peran perubahan menuju perbaikan.
Pemuda seperti inilah yang sesungguhnya telah dilantangkan oleh Bung Karno,
“Berikan padaku sepuluh orang pemuda…, maka akan ku goncang dunia”.
Sahabatku….,
tanyalah pada dirimu.., kira-kira masuk tipe pemuda yang mana ya?. Saya berharap
kalian adalah tipe pemuda yang ketiga, pemuda yang punya arah. Tapi kalau belum…,
setidak-tidaknya tipe pemuda kedua yang sedang merapat pada kekuatan arus
kebaikan. Sehingga tak akan lama lagi akan menjadi pemuda tipe yang ketiga.***
Wallahua’lam bishawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar