Hari Jumat, 17 Agustus 1945
bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H kumandang kemerdekaan menggema seantero
Nusantara. Pagi itu mentari baru saja menyapa di waktu Dhuha. Para pendiri
bangsa berkumpul dan memproklamirkan kemerdekaan negeri tercinta dengan penuh
semangat membahana. Tonggak sejarah telah tercatat dengan tinta emas bahwa
negeri Indonesia telah berdaulat. Pengorbanan dan perjuangan jiwa raga para
pahlawan telah menuai cita-cita mulia berupa
kemerdekaan yang didapat.
Hari-hari setelah itu sepenjuru
negeri bersuka-cita sambil menggemakan kata ”merdeka”. Sujud syukur dan pekikan
Takbir memperkuat jiwa-jiwa yang rindu untuk dapat menentukan sendiri nasibnya.
Rindu hidup dengan bebas tanpa tekanan dan penindasan dari penjajah yang
durjana. Kemerdekaan benar-benar telah dirasakan oleh setiap jiwa di negeri
ini. Walaupun demikian, agar dinyatakan benar-benar
berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan
pengakuan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Alhamdulillah.., tak lama dari
proklamasi kemerdekaan Indonesia, Palestina dan Mesir tampil sebagai negara
yang paling awal yang mengakui kedaulat dan kemerdekaan Indonesia. Dengan
demikian bangsa ini benar-benar telah merdeka.
Sahabatku para pemuda.., hari ini 70 tahun sudah negeri ini merdeka. Perjalanan demi perjalanan telah terlewati,
tidak selamanya jalan itu mulus dilalui tapi kadang halang rintang juga
menghampiri. Ke depan perjalanan ini masih amat panjang tentunya dan kalianlah
yang akan menahkodai perjalanan negeri ini selanjutnya. Sebagaimana kalimat
bijak berkata ”Pemuda hari ini.., adalah pemimpin esok hari”. Kalianlah para
pewaris negeri, dimana harapan telah terpatri pada pundak kalian. Jiwa-jiwa
yang memiliki tekad membahana, tuk wujudkan mimpi memajukan negeri.
Pemuda adalah generasi penerus
estafet kepemimpinan. Di tangan pemudalah nasib masa depan negeri ini
bergantung. Jika generasi muda memilki spiritualitas keimanan yang tinggi maka
negeri ini akan tetap dalam keberkahan. Jika para pemudanya berpegang teguh
pada kebenaran, ke depan negeri ini akan tetap dalam kebaikan. Jika para pemuda
memiliki kepribadian yang tangguh, negeri ini akan menjadi negeri yang tangguh
pula di masa datang. Jika pemudanya memiliki kematangan jiwa dan
intelektualitas, maka negeri ini akan memiliki tokoh-tokoh pemimpin yang unggul
dan handal.
Tapi bila sebaliknya, jika para generasi
muda hidup dalam ketidakpastian, suka hura-hura, dan berfoya-foya, wah bisa
kebayang begitu beratnya keadaan negeri ini kedepan. Bisa jadi negeri ini akan
menjadi negeri yang terombang-ambing dalam ketidakpastian pula. Jika generasi
mudanya lebay, maka negeri ini akan jadi negeri yang lemah dan gampang
mengeluh. Jika pemudanya hidup dalam kungkungan kemakasiatan, seperti minuman
keras, terjerat narkoba dan perbuatan dosa lainnya, sudah pasti negeri ini akan
jauh dari keberkahan dan siap-siap menghadapi ancaman kehancuran.
Wahai para pemuda..., engkaulah
pewaris negeri sejati. Di pundakmulah beban nasib bangsa ini kedepan akan
dipikul. Di tanganmulah perjalanan masa depan negeri ini akan dikendalikan. Sungguh
banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat karya-karya
besar yang harus kalian tunaikan. Kalian harus berpikir panjang, banyak
berkarya, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah
kalian mampu menunaikan amanah ini dengan penuh tekad yang kuat. Oleh karena
itu, ada beberapa modal yang harus kalian pegang erat-erat.
Keimanan
di hatimu adalah modal terhebat
Ada golongan orang di negeri ini
yang benar-benar tak mau mengerti kaitannya keimanan dengan perjuangan
kemerdekaan. Mereka bahkan menolak unsur-unsur spiritual dikaitkan dengan
urusan mengurus negeri. Ketidaktahuan inilah yang pernah diperingatkan oleh Bung Karno dalam wasiatnya. Wasiat
tersebut terkenal dengan istilah JAS MERAH, jangan sekali-sekali
melupakan sejarah. Kita perlu membuka kembali sejarah dengan
sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.
Diakui atau tidak, perjuangan bangsa
Indonesia melawan penjajah banyak didasari karena faktor kemuliaan sebagai
bangsa yang beriman. Kobaran semangat perlawanan sering terinspirasi oleh jihad
fii sabilillah membebaskan negeri dari kaum kafir yang menindas dan
menjajah. Banyak bukti-bukti sejarah yang telah tercatat dengan tinta emas
negeri ini. Kumandang takbir ”Allohu Akbar ...! menjadi senjata pemompa
perjuangan. Lihatlah panglima besar Jendral Soedirman, bapak dari cikal bakal
kekuatan militer di negeri ini, beliau selalu memompa semangat pasukannya
dengan pekikan takbir. Tak jarang pula beliau mengulang-ulang Qur’an surat Ash-Shaf
ayat 10-12 yang kemudian diterjemahkannya sendiri: ‘Hai orang-orang yang beriman,
maukah kamu Aku tunjukkan kepada suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu
dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta
berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu…”.
Dengarkanlah kembali rekaman hiruk
pikuk perlawanan arek-arek Surabaya, yang dikomandoi oleh Bung Tomo.
Dengarkanlah.., disana kita akan menemukan kalimat laa ilaha illallah dan
pekikan ”Allohu Akbar” menggema seantero Surabaya. Belum lagi kalau kita
membuka sejarah perjuangan Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran
Diponegero, Fatahillah, dan lain-lain semuanya benar-benar didasarkan oleh
faktor keimanan. Tapi kenapa buku sejarah yang terbit di sekolah-sekolah jarang
mengungkap sisi spiritual ini. Jawabannya wallahua’lam bishawab.
Wahai Sahabatku para pemuda...,
keimanan yang tertancap di hatimu akan menjadikan mu pewaris negeri sejati.
Kamu akan memilki hubungan yang kuat dengan Rabbnya, hubungan inilah
yang menjadi sumber energi yang tiada henti. Selain itu keimanan yang tertanam di
dadamu juga akan menumbuhkan rasa cinta. Rasa cinta untuk menjadi pribadi yang
hebat dan bermanfaat. Rasa cinta untuk dapat berguna bagi masyarakat. Serta rasa
cinta memikul tanggungjawab sebagai calon pemimpin masa depan negeri ini.
Potensi
Jiwa Ragamu yang kuat
Generasi muda adalah mereka yang
memiliki potensi jiwa dan raga yang sedang memuncak. Potensi ini jika digunakan
dalam jalan kebaikan akan benar-benar bermanfaat. Tetapi jika potensi ini
dilampiaskan untuk bermaksiat negeri ini benar-benar dalam kondisi gawat
darurat. Oleh karena itu wahai para pemuda, ayo gunakan setiap potensimu untuk
berkarya, berkarya dan berkaya. Dari tekad untuk bekarya ini akan melahirkan
kerja-kerja hebat untuk bangsa ini. Karena susunggunya bekerja untuk kebaikan
Indonesia adalah Ibadah.
Kebersamaanmu
yang erat
Generasi muda memiliki kecenderungan
memiliki keakraban dalam berkomunikasi dan berkumpul. Ini adalah suatu hal yang
amat menarik jika keakraban dalam kebersamaan ini diarahkan untuk berjuang
bersama mengisi dan melanjutkan kemerdekaan. Dengan demikian jika para generasi
mudanya bersatu padu agar masa depan negeri ini makmur dan maju, maka akan
melahirkan keharmonian gerak langkah menuju Indonesia yang lebih cerah.***
Wallahua’lam bishawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar