Senin, 17 Agustus 2015

Padamu Pewaris Negeri

Hari Jumat, 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H kumandang kemerdekaan menggema seantero Nusantara. Pagi itu mentari baru saja menyapa di waktu Dhuha. Para pendiri bangsa berkumpul dan memproklamirkan kemerdekaan negeri tercinta dengan penuh semangat membahana. Tonggak sejarah telah tercatat dengan tinta emas bahwa negeri Indonesia telah berdaulat. Pengorbanan dan perjuangan jiwa raga para pahlawan  telah menuai cita-cita mulia berupa kemerdekaan yang didapat.

Hari-hari setelah itu sepenjuru negeri bersuka-cita sambil menggemakan kata ”merdeka”. Sujud syukur dan pekikan Takbir memperkuat jiwa-jiwa yang rindu untuk dapat menentukan sendiri nasibnya. Rindu hidup dengan bebas tanpa tekanan dan penindasan dari penjajah yang durjana. Kemerdekaan benar-benar telah dirasakan oleh setiap jiwa di negeri ini.  Walaupun demikian, agar dinyatakan benar-benar berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Alhamdulillah.., tak lama dari proklamasi kemerdekaan Indonesia, Palestina dan Mesir tampil sebagai negara yang paling awal yang mengakui kedaulat dan kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian bangsa ini benar-benar telah merdeka.
Sahabatku para pemuda.., hari ini 70 tahun sudah negeri ini merdeka. Perjalanan demi perjalanan telah terlewati, tidak selamanya jalan itu mulus dilalui tapi kadang halang rintang juga menghampiri. Ke depan perjalanan ini masih amat panjang tentunya dan kalianlah yang akan menahkodai perjalanan negeri ini selanjutnya. Sebagaimana kalimat bijak berkata ”Pemuda hari ini.., adalah pemimpin esok hari”. Kalianlah para pewaris negeri, dimana harapan telah terpatri pada pundak kalian. Jiwa-jiwa yang memiliki tekad membahana, tuk wujudkan mimpi memajukan negeri.
Pemuda adalah generasi penerus estafet kepemimpinan. Di tangan pemudalah nasib masa depan negeri ini bergantung. Jika generasi muda memilki spiritualitas keimanan yang tinggi maka negeri ini akan tetap dalam keberkahan. Jika para pemudanya berpegang teguh pada kebenaran, ke depan negeri ini akan tetap dalam kebaikan. Jika para pemuda memiliki kepribadian yang tangguh, negeri ini akan menjadi negeri yang tangguh pula di masa datang. Jika pemudanya memiliki kematangan jiwa dan intelektualitas, maka negeri ini akan memiliki tokoh-tokoh pemimpin yang unggul dan handal.
Tapi bila sebaliknya, jika para generasi muda hidup dalam ketidakpastian, suka hura-hura, dan berfoya-foya, wah bisa kebayang begitu beratnya keadaan negeri ini kedepan. Bisa jadi negeri ini akan menjadi negeri yang terombang-ambing dalam ketidakpastian pula. Jika generasi mudanya lebay, maka negeri ini akan jadi negeri yang lemah dan gampang mengeluh. Jika pemudanya hidup dalam kungkungan kemakasiatan, seperti minuman keras, terjerat narkoba dan perbuatan dosa lainnya, sudah pasti negeri ini akan jauh dari keberkahan dan siap-siap menghadapi ancaman kehancuran.
Wahai para pemuda..., engkaulah pewaris negeri sejati. Di pundakmulah beban nasib bangsa ini kedepan akan dipikul. Di tanganmulah perjalanan masa depan negeri ini akan dikendalikan. Sungguh banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat karya-karya besar yang harus kalian tunaikan. Kalian harus berpikir panjang, banyak berkarya, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan amanah ini dengan penuh tekad yang kuat. Oleh karena itu, ada beberapa modal yang harus kalian pegang erat-erat.

Keimanan di hatimu adalah modal terhebat
Ada golongan orang di negeri ini yang benar-benar tak mau mengerti kaitannya keimanan dengan perjuangan kemerdekaan. Mereka bahkan menolak unsur-unsur spiritual dikaitkan dengan urusan mengurus negeri. Ketidaktahuan inilah yang pernah diperingatkan  oleh Bung Karno dalam wasiatnya. Wasiat tersebut terkenal dengan istilah JAS MERAH, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Kita perlu membuka kembali sejarah dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya.
Diakui atau tidak, perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah banyak didasari karena faktor kemuliaan sebagai bangsa yang beriman. Kobaran semangat perlawanan sering terinspirasi oleh jihad fii sabilillah membebaskan negeri dari kaum kafir yang menindas dan menjajah. Banyak bukti-bukti sejarah yang telah tercatat dengan tinta emas negeri ini. Kumandang takbir ”Allohu Akbar ...! menjadi senjata pemompa perjuangan. Lihatlah panglima besar Jendral Soedirman, bapak dari cikal bakal kekuatan militer di negeri ini, beliau selalu memompa semangat pasukannya dengan pekikan takbir. Tak jarang pula beliau mengulang-ulang Qur’an surat Ash-Shaf ayat 10-12 yang kemudian diterjemahkannya sendiri: ‘Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan kepada suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu…”.
Dengarkanlah kembali rekaman hiruk pikuk perlawanan arek-arek Surabaya, yang dikomandoi oleh Bung Tomo. Dengarkanlah.., disana kita akan menemukan kalimat laa ilaha illallah dan pekikan ”Allohu Akbar” menggema seantero Surabaya. Belum lagi kalau kita membuka sejarah perjuangan Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegero, Fatahillah, dan lain-lain semuanya benar-benar didasarkan oleh faktor keimanan. Tapi kenapa buku sejarah yang terbit di sekolah-sekolah jarang mengungkap sisi spiritual ini. Jawabannya wallahua’lam bishawab.
Wahai Sahabatku para pemuda..., keimanan yang tertancap di hatimu akan menjadikan mu pewaris negeri sejati. Kamu akan memilki hubungan yang kuat dengan Rabbnya, hubungan inilah yang menjadi sumber energi yang tiada henti. Selain itu keimanan yang tertanam di dadamu juga akan menumbuhkan rasa cinta. Rasa cinta untuk menjadi pribadi yang hebat dan bermanfaat. Rasa cinta untuk dapat berguna bagi masyarakat. Serta rasa cinta memikul tanggungjawab sebagai calon pemimpin masa depan negeri ini.

Potensi Jiwa Ragamu yang kuat
Generasi muda adalah mereka yang memiliki potensi jiwa dan raga yang sedang memuncak. Potensi ini jika digunakan dalam jalan kebaikan akan benar-benar bermanfaat. Tetapi jika potensi ini dilampiaskan untuk bermaksiat negeri ini benar-benar dalam kondisi gawat darurat. Oleh karena itu wahai para pemuda, ayo gunakan setiap potensimu untuk berkarya, berkarya dan berkaya. Dari tekad untuk bekarya ini akan melahirkan kerja-kerja hebat untuk bangsa ini. Karena susunggunya bekerja untuk kebaikan Indonesia adalah Ibadah.

Kebersamaanmu yang erat
Generasi muda memiliki kecenderungan memiliki keakraban dalam berkomunikasi dan berkumpul. Ini adalah suatu hal yang amat menarik jika keakraban dalam kebersamaan ini diarahkan untuk berjuang bersama mengisi dan melanjutkan kemerdekaan. Dengan demikian jika para generasi mudanya bersatu padu agar masa depan negeri ini makmur dan maju, maka akan melahirkan keharmonian gerak langkah menuju Indonesia yang lebih cerah.***
Wallahua’lam bishawab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar