Rabu, 12 Agustus 2015

Happy Ending yang Dirindukan


Sahabatku yang baik, bayingin kalo kamu lagi sholat Isya berjamaah dengan  bacaan imam yang puanjang-puanjang, trus 5 detik sebelum salam eeh kamu malah kentut. Apa yang terjadi?, sholatmu yang hampir 15 menitan itu pasti batal jadinya. Begitu juga dengan pelajar yang telah berbulan-bulan belajar nyiapin ujian. Pas hari H ujian sebenarnya dilalui dengan mantap, eeh waktu kurang 10 menit malah menghapus LJK sampai sobek. sehingga harus ganti soal dan LJK baru dalam jangka waktu pengerjaan yang tak memungkinkani. Hasilnya, nilai ujian jadi amat mengecewakan. Ada juga tim sepak bola yang selama hampir 90 menit bejuang mati-matian menjaga keunggulan tipis 1-0 atas tim lawan. Di detik-detik akhir sebelum pertandingan usai malah kebobolan. Dengan hasil imbang tim ini harus tersingkir, dan gagal melaju ke putaran berikutnya. Peristiwa-peristiwa serupa menjunjukan bahwa dalam kehidupan keadaan di waktu akhir sungguh amatlah menentukan.

Begitu pula dalam pandangan agama, keadaan pada waktu akhir sangat penting dan amat menentukan. Oleh karena itu telinga kita familiar dengar istilah khusnul khotimah, yang berarti akhir yang baik. Dan sebaliknya ada istilah suul khatimah yang berarti akhir yang buruk. Setiap pribadi muslim pasti menginginkan untuk mengakhiri hidup di dunia ini dengan khusnul khatimah, bagaimana pun kondisi kehidupan yang sedang dijalani, ia tetap merindukan happy ending di penghujung hayatnya. Bahkan ada slogan yang agak ngawur di kalangan remaja,”muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga”. Slogan ini memang terdengar agak ngawur, akan tetapi walau toh demikian di dalamnya mengandung makna bahwa setiap manusia sesuai fitrahnya tetap pengin masuk syurga juga. Artinya tetap pengin happy ending atau khusnul khatimah.
Tiada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan celaka di akhir hayatnya. Semua berharap tatkala akhir hayat mereka benar-benar berada dalam keadaan yang husnul khatimah. Karena meninggal husnul khatimah merupakan kemenangan terbesar dalam rangkaian hidup ini. Ibarat balapan lari, maka yang paling terpenting adalah mencapai garis finish dengan selamat bukan pada startnya. Husnul khatimah merupakan karunia terbesar dari Allah SWT untuk seorang hamba. Walaupun demikian ia tetap buah dari ikhtiar yang kita usahakan dalam jalan hidup yang panjang.
Satu hal yang patut di waspadai yaitu kondisi sesoarang sekarang yang sudah dalam kebaikan, belum jaminan bahwa mereka akan khusnul khatimah di akhir hayatnya nanti. Begitu juga dengan kondisi sesorang yang menurut pandangan orang lain kehidupannya penuh dengan gelimangan dosa, belum jaminan pula mereka akan suul khatimah. Itu semua tergantung bagaimana keadaan terakhir ketika sesorang dipangggil. Disnilah kadang saya merasa ngeri…
Ada kisah dua orang saudara kandung yang membuat merinding. Yang tua, sejak kecil dikenal sebagai orang baik, dan sepanjang hidupnya digunakan untuk beribadah. Sehari-hari ia habiskan waktunya di masjid karena memang itu pekerjaannya, sebagai marbot masjid.  Sedangkan adiknya, sangat berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Ia bahkan memiliki rumah bordil (lokalisasi_tempat pelacuran) dan hampir tiap hari ia mabuk dan melakukan pelbagai macam kemaksiatan disana.
Suatu ketika, sang kakak yang alim dan ahli ibadah itu melamun. Terbesit keinginan nafsunya untuk sesekali menikmati indahnya hidup di luar sana. “Sekali ini saja” katanya dalam hati.., “setelah ini kan bisa tobat sebanyak-banyaknya”.  Dia pun bertekad ingin pergi ke rumah bordil milik adiknya. Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Ia pengin sesekali keluar dari kubangan lumpur dosa dan bertekad akan menemui kakanya di masjid.
Dan benarlah. Ketika malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Sayangnya mereka berjalan dengan jalan yang berbeda, sehingga tak berpapasan. Sampai di rumah bordil sang kakak mencari adiknya, namun adiknya tak dijumpainya. Meskipun demikian ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya. Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang adik sampai di masjid tempat kakaknya biasa beribadah. Ia sudah bertekad bulat untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Meskipun demikian niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya dengan bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi bergoncang dengan hebatnya, gempa terjadi amat dahsyat. Beberapa bangunan roboh. Termasuk masjid dan rumah bordil. Keesokan harinya, Sang kakak ditemukan tewas di antara reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dadanya.
Subhaanallah…, kisah ini diambil dari sumber yang terpercaya dan nyata adanya. Inspirasi yang terkandung di dalamnya adalah orang yang merasa sudah baik, janganlah dulu berbangga hati. Karena itu belum jadi jaminan keselamatan di akhir hayat nanti. Begitu juga orang yang merasa telah terbiasa tenggelam dalam lumpur dosa kemaksiatan. Janganlah berputus asa dan menjadikan diri semakin menjauh dari nur Ilahi. Ayo sesekali merenung masih terbentang jalan indah untuk kembali.
Sahabatku.., para ustadz berkata jembatan untuk menjaga kebaikan hari ini agar tetap baik di penghujung hayat nanti adalah Istiqomah. Ia merupakan ikhtiar agar senantiasa memegang teguh  kebaikan sampai akhir zaman. Istiqomah itu gampang diucapkan tapi berat banget dilakukan. Untuk mengurangi beban berat istiqomah itu kita butuh teman perjuangan, butuh banget sekumpulan orang sholeh yang sama-sama juga berjuang ingin beristiqomah, mengidamkan hidup penuh berkah dan kelak mati khusnul khatimah. Oleh karena itu berkawan dengan orang baik itu penting, ngaji dan aktivitas lain membina jiwa ternyata juga amat bermakna agar diri selalu terjaga.
Bersama dalam mengarungi jalan mulia itulah bentuk saling menyayangi yang tiada batas maknanya. Saling mengingatkan dan menasehati itulah makna kebersamaan yang sejati.  
Ya Allah.., jadikan amal kami yang terbaik adalah akhirnya, dan umur kami yang terbaik adalah penghujungnya, dan hari kami yang terbaik adalah pada saat bertemu Engkau. Aamiin…

Duh Gusti kulo nyuwun.., gesang kulo istiqomah…
Duh Gusti kulo nyuwun.., mbenjang pejah khusnul khatimah…

Walahu ‘alam bishawwab                                                                                   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar