Sahabatku yang baik, bayingin
kalo kamu lagi sholat Isya berjamaah dengan
bacaan imam yang puanjang-puanjang, trus 5 detik sebelum salam eeh kamu malah
kentut. Apa yang terjadi?, sholatmu yang hampir 15 menitan itu pasti batal
jadinya. Begitu juga dengan pelajar yang telah berbulan-bulan belajar nyiapin
ujian. Pas hari H ujian sebenarnya dilalui dengan mantap, eeh waktu kurang 10
menit malah menghapus LJK sampai sobek. sehingga harus ganti soal dan LJK baru
dalam jangka waktu pengerjaan yang tak memungkinkani. Hasilnya, nilai ujian
jadi amat mengecewakan. Ada juga tim sepak bola yang selama hampir 90 menit bejuang
mati-matian menjaga keunggulan tipis 1-0 atas tim lawan. Di detik-detik akhir
sebelum pertandingan usai malah kebobolan. Dengan hasil imbang tim ini harus
tersingkir, dan gagal melaju ke putaran berikutnya. Peristiwa-peristiwa serupa
menjunjukan bahwa dalam kehidupan keadaan di waktu akhir sungguh amatlah menentukan.
Begitu pula dalam pandangan
agama, keadaan pada waktu akhir sangat penting dan amat menentukan. Oleh karena
itu telinga kita familiar dengar istilah khusnul khotimah, yang berarti akhir
yang baik. Dan sebaliknya ada istilah suul khatimah yang berarti akhir yang
buruk. Setiap pribadi muslim pasti menginginkan untuk mengakhiri hidup di dunia
ini dengan khusnul khatimah, bagaimana pun kondisi kehidupan yang sedang dijalani,
ia tetap merindukan happy ending di penghujung hayatnya. Bahkan ada slogan yang
agak ngawur di kalangan remaja,”muda
foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga”. Slogan ini memang terdengar agak
ngawur, akan tetapi walau toh demikian di dalamnya mengandung makna bahwa
setiap manusia sesuai fitrahnya tetap pengin masuk syurga juga. Artinya tetap
pengin happy ending atau khusnul khatimah.
Tiada satupun manusia
di dunia ini yang menginginkan celaka di akhir hayatnya. Semua berharap tatkala
akhir hayat mereka benar-benar berada dalam keadaan yang husnul khatimah.
Karena meninggal husnul khatimah merupakan kemenangan terbesar dalam rangkaian
hidup ini. Ibarat balapan lari, maka yang paling terpenting adalah mencapai
garis finish dengan selamat bukan pada startnya. Husnul khatimah merupakan
karunia terbesar dari Allah SWT untuk seorang hamba. Walaupun demikian ia tetap
buah dari ikhtiar yang kita usahakan dalam jalan hidup yang panjang.
Satu hal yang patut
di waspadai yaitu kondisi sesoarang sekarang yang sudah dalam kebaikan, belum
jaminan bahwa mereka akan khusnul khatimah di akhir hayatnya nanti. Begitu juga
dengan kondisi sesorang yang menurut pandangan orang lain kehidupannya penuh
dengan gelimangan dosa, belum jaminan pula mereka akan suul khatimah. Itu semua
tergantung bagaimana keadaan terakhir ketika sesorang dipangggil. Disnilah kadang saya merasa ngeri…
Ada kisah dua orang
saudara kandung yang membuat merinding. Yang tua, sejak kecil dikenal sebagai
orang baik, dan sepanjang hidupnya digunakan untuk beribadah. Sehari-hari ia
habiskan waktunya di masjid karena memang itu pekerjaannya, sebagai marbot
masjid. Sedangkan adiknya, sangat
berbeda dengan kakaknya. Sejak kecil ia dikenal nakal. Ia bahkan memiliki rumah
bordil (lokalisasi_tempat pelacuran) dan hampir tiap hari ia mabuk dan
melakukan pelbagai macam kemaksiatan disana.
Suatu ketika, sang
kakak yang alim dan ahli ibadah itu melamun. Terbesit keinginan nafsunya untuk
sesekali menikmati indahnya hidup di luar sana. “Sekali ini saja” katanya dalam
hati.., “setelah ini kan bisa tobat sebanyak-banyaknya”. Dia pun bertekad ingin pergi ke rumah bordil
milik adiknya. Sementara di rumah bordil. Adiknya juga merenung. Ia merasa
jenuh dengan hidup yang dijalaninya. Ia pengin sesekali keluar dari kubangan
lumpur dosa dan bertekad akan menemui kakanya di masjid.
Dan benarlah. Ketika
malam datang kedua saudara itu melakukan niatnya masing-masing. Sayangnya
mereka berjalan dengan jalan yang berbeda, sehingga tak berpapasan. Sampai di
rumah bordil sang kakak mencari adiknya, namun adiknya tak dijumpainya. Meskipun
demikian ia tetap melaksanakan niatnya. Nafsu telah menguasai akal pikirannya.
Ia pun menuruti segala yang diinginkan nafsunya di rumah bordil itu bersama
para penari dan pelacur.
Di tempat lain, sang
adik sampai di masjid tempat kakaknya biasa beribadah. Ia sudah bertekad bulat
untuk tobat meninggalkan semua perbuatan buruknya. Ia mengambil air wudhu dan
masuk ke dalam masjid. Ia mencari-cari kakaknya, ternyata tidak ada. Meskipun demikian
niatnya telah bulat. Ia melakukan shalat dan beristighfar sebanyak-banyaknya
dengan bercucuran air mata.
Tiba-tiba bumi bergoncang
dengan hebatnya, gempa terjadi amat dahsyat. Beberapa bangunan roboh. Termasuk
masjid dan rumah bordil. Keesokan harinya, Sang kakak ditemukan tewas di antara
reruntuhan rumah bordil di samping mayat seorang penari wanita dalam keadaan
yang memalukan. Sedangkan adiknya juga ditemukan tewas di antara reruntuhan
masjid. Kedua tangannya mendekap sebuah mushaf di dadanya.
Subhaanallah…, kisah ini diambil
dari sumber yang terpercaya dan nyata adanya. Inspirasi yang terkandung di
dalamnya adalah orang yang merasa sudah baik, janganlah dulu berbangga hati.
Karena itu belum jadi jaminan keselamatan di akhir hayat nanti. Begitu juga
orang yang merasa telah terbiasa tenggelam dalam lumpur dosa kemaksiatan.
Janganlah berputus asa dan menjadikan diri semakin menjauh dari nur Ilahi. Ayo
sesekali merenung masih terbentang jalan indah untuk kembali.
Sahabatku.., para
ustadz berkata jembatan untuk menjaga kebaikan hari ini agar tetap baik di
penghujung hayat nanti adalah Istiqomah. Ia merupakan ikhtiar agar senantiasa
memegang teguh kebaikan sampai akhir
zaman. Istiqomah itu gampang diucapkan tapi berat banget dilakukan. Untuk
mengurangi beban berat istiqomah itu kita butuh teman perjuangan, butuh banget
sekumpulan orang sholeh yang sama-sama juga berjuang ingin beristiqomah, mengidamkan
hidup penuh berkah dan kelak mati khusnul khatimah. Oleh karena itu berkawan
dengan orang baik itu penting, ngaji dan aktivitas lain membina jiwa ternyata
juga amat bermakna agar diri selalu terjaga.
Bersama dalam
mengarungi jalan mulia itulah bentuk saling menyayangi yang tiada batas
maknanya. Saling mengingatkan dan menasehati itulah makna kebersamaan yang
sejati.
Ya Allah.., jadikan amal kami yang terbaik
adalah akhirnya, dan umur kami yang terbaik adalah penghujungnya, dan hari kami
yang terbaik adalah pada saat bertemu Engkau. Aamiin…
Duh Gusti kulo nyuwun.., gesang kulo istiqomah…
Duh Gusti kulo nyuwun.., mbenjang pejah khusnul khatimah…
Walahu
‘alam bishawwab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar