Sabtu, 14 Februari 2015

Tetap Bersinar di Jaman Edan


Kata orang zaman sekarang ini sering disebut dengan zaman edan. Disebut zaman edan karena telah mewabahnya virus ”kegilaan” yang telah menyebar luas dalam kehidupan. Kegilaan dalam hal apa sih?, kegilaan dalam bersikap, berprilaku dan bertindak dimana antara kebenaran dan keburukan, antara yang haq dengan bathil telah dijungkir-balikan. Sesuatu yang benar bisa dianggap salah sedangkan sesuatu yang salah bisa dianggap benar. Hasil utama dari kegilaan inilah yang telah memunculkan adanya penyimpangan disana-sini. Dan celakanya penyimpangan-penyimpangan itu mendapat pengakuan sebagai hal yang biasa-biasa saja bahkan menjadi hal yang dibenarkan menurut kebanyakan orang.
Sebagai contoh ada orang tua yang menyalahkan anak gadisnya yang tak kunjung punya pacar dan ndak mau pacaran. Ia begitu khawatir kalo-kalo anaknya menjadi perawan tua, dan dibilangin orang kagak laku-laku. Tapi ia begitu girangnyanya jika anaknya setiap malem mingguan ada yang ngepelin..., eh ngapelin, ada yang setiap saat mboncengin dan ngajak pergi berduaan, mbelikan jajan, mbelikan baju dan lain-lain.  Ia amat bangga kerena anaknya telah ”laku”, kok kaya dagangan aja ya..?. Padahal jodoh kan ditangan Allah, ..kan sudah ditentuin siapa jodohnya, tinggal jemput aja kok.
Begitu juga dengan kisah yang dituturkan oleh mbak Sandrina Malakiano, mantan presenter sebuah TV swasta nasional yang terkenal dengan program beritanya. Sejak memutuskan untuk berjilbab, sosok Sandrina Malakiano tak lagi nongol tampil membawakan berita, Ia seperti menghilang begitu saja. TV tempat ia bekerja melarangnya mengenakan jilbab pada saat siaran di studio. Presenter memakai jilbab menurut manajemen TV tersebut adalah susuatu yang salah. Akan tetapi coba perhatikan., presenter-presenter lain tampil begitu seksi dan vulgar, tapi yang begitan yang dianggap benar menurut manajemen TV tersebut.
Kisah serupa juga terjadi di rumah sakit, lembaga dan perusahaan-perusahan lainnya, yang tak jarang melakukan pemecatan kepada karyawati/pegawainya yang memutuskan untuk mengenakan jilbab.  Termasuk yang belum lama kita dengar ketika ramai-ramainya wacana Polwan berjilbab, adalah pernyataan Wakapolri Komjen Pol Nanan Sukarna yang mengungkapkan jika ingin memakai jilbab, mending Polwan keluar saja dari Polri. Tapi Alhamdulillah, Kapolri sepakat polwan yang berkeinginan pakai jilbab diperbolehkan memakainya hanya perlu disesuaikan dengan seragam kedinasan.  Hari gini .., masih nglarang muslimah pakai jilbab...?? ”Apa kata akhairat...!!!”
Sahabatku para pemuda.., penggalan fakta-fakta diatas mewakili banyak fakta-fakta serupa lainnya yang terjadi di akhir zaman ini. Sesorang yang teguh dalam keimanan dan kebenaran akan terasa asing dalam kehidupan masyarakat luas. Bukan karena ia mengasingkan diri, tapi karena memang kebathilan yang telah menyebar sehingga membuat yang haq menjadi sesuatu yang aneh. Sekali lagi bukan karena membuat dirinya menjadi asing, tetapi memang norma dan nilai telah bergeser menyingkirkan kebenaran yang hakiki. Sehingga kebenaran yang sejati dianggap sesuatu yang kuno dan tabu. Hal ini sungguh menjadi kebenaran bukti Risalah Rasulullah SAW, beliau telah bersabda “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
Sahabatku.., kita sebagai generasi muslim sejati harus bertekad menjadi pelita dalam kegelapan hidup di zaman edan ini. Maka tetaplah bersinar wahai kalian generasi harapan. Teruslah pancarkan sinarmu di mana pun tempat dan tembuslah kelamnya zaman. Sesungguhnya mengamalkan Islam kita pada zaman seperi ini adalah kumpulan ladang kebaikan. Teruslah menjadi pribadi yang memperbaiki diri. Perbaikilah terus dirimu.., dan ajaklah orang lain ke dalam kebaikan yang kita yakini. Mari kita mulai dari apa yang kita bisa untuk bertindak dan berkarya sekarang ini jua. Mari kita gerakan potensi yang kan terus berkembang tiada henti, menembus sendi-sendi jahiliyah modern di akhir zaman ini.
Biarlah mengapa engkau diolok-olok ”sok suci..”. Tetaplah tenang.., santai aja sambil menjawab, ”dari pada loe sok najis”. Biarlah mengapa kau dicibir ”sok alim”. Tetep cool, jawablah, ”dari pada loe sok kafir”. Lama-lama mereka yang mencibir juga akan merasakan kehadiran kita yang membawa kebaikan. Cepat atau lambat mereka juga akan merasakan getaran cinta yang kita hembuskan penuh keikhlasan. 
Tetaplah bersabar sahabatku..., walau perjuangan itu terasa begitu panas menyengat. Yakinlah bahwa bersabar memegang keteguhan di akhir zaman merupakan amalan yang luar biasa pahalnya. Sampai-sampai Allah SWT menganugrahi mereka yang bersabar dalam menegakan kebaikan di akhir zaman dengan pahala 50 kali amalan para Sahabat Nabi. Nabi bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).


Wallahua’lam bishawab...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar