Sabtu, 21 Maret 2015

Setiap Kita Adalah Pemenang


Sahabatku…, kadang kalanya manusia merasa dirinya serba kurang, kurang beruntung, kurang ganteng, kurang cantik, kurang kaya, kurang mujur nasibnya jika dibandingkan dengan orang lain. Hal ini biasanya disebabkan karena manusia melupakan anugrah yang amat besar, sementara  fokus berfikir pada kekurangan yang kecil. Sebagai contoh seseorang yang tersandung, kemudian jempol kakinya berdarah akan sangat merasa sakit dan menderita jika hanya terlalu fokus berfikir tentang nasib  jempol kakinya yang berdarah itu. Tapi kalau dia menyadari bahwa seluruh tubuhnya masih tetap sehat wal afiat ia tak akan merasakan kesakitan yang  besar pada jempol kakinya.
Begitu pula bagi mereka yang merasa putus asa, seperti tak punya apa-apa lagi dan mersa hidupnya amat rendah. Perlu merenung lebih dalam bahwa sesungguhnya setiap kita telah terlahir sebagai pemenang. Perlu diingat proses terjadinya manusia atas ijin Allah SWT melalui mekanisme pembuahan, berupa pertemuan sperma dan sel telur dari kedua orangtuanya, ayah dan ibu. Terjadi kompetensi dan perjuangan yang amat dahsyat dari ratusan juta sel sperma. Dalam ilmu biologi disebutkan 200 juta sampai 500 juta sel sperma yang dikeluarkan, untuk menuju satu tujuan yakni membuahi sel telur.
Dari jumlah itu, rata-rata hanya setengahnya saja yang mampu bertahan. Ini dikarenakan sperma yang tidak bisa bertahan hidup di medan yang kering. Perjuangan tentu belum selesai, ia terus berlanjut. Sel sperma yang masih bertahan harus melanjutkan perjalanan menuju uterus. Hanya tersisa sekian juta sel sperma yang berhasil masuk ke dalam saluran telur atau tuba falopi. Ini baru salurannya, tujuan akhir adalah sel telur yang terletak di ujung tuba falopi. Di sepanjang perjalanan ini, kembali jutaan sel gugur karena tidak mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama.
Kabar baiknya, hanya sel-sel sperma yang punya kegigihan yang mampu bertahan. Sekali lagi mereka harus berjuang, dan kali ini yang paling berat. Bahwasannya, sel telur yang hendak dimasuki memiliki lapisan tebal yang disebut Korona Radiata. Sel sperma tidak dapat berjuang sendiri, ia bersama dengan segelintir teman-teman yang tersisa berjuang untuk bisa menembus lapisan tersebut. Mereka mengerahkan kekuatan terakhir yang masih tersisa. Namun hanya sperma yang tanggap melihat peluang yang berhasil masuk ke dalam sel telur. Lalu, berapa sel yang sukses masuk ke dalam sel telur? Umumnya hanya satu. Hanya satu sel sperma yang ditakdirkan untuk jadi pemenang dan sel itu adalah kita. Ya, itu adalah kita.
Jadi, sahabat sekalian,  sadarkah bahwa sejak masih berbentuk sperma, kemenangan sudah melekat dalam diri kita semua.  Maka dengan merenungi bagaimana kita dilahirkan, seharusnya tak pantas ada rasa kecil hati dalam dirinya. Apalagi Allah SWT telah menegaskan dalam Firman-Nya bahwa Dia telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lainnya.  "Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tiin:4).
Sahabatku.., apalagi kita sebagai generasi muslim selain terlahir sebagai pemenang, seharusnya juga tumbuh dan berkembang menjadi sang pemenang pula. Sebab, dalam setiap jiwa generasi muslim telah mengikat prestasi kemengan, yaitu bahwa  Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya. Karena itu, sudah selayaknya setiap jiwa pribadi Muslim lahir menjadi pemenang dalam setiap sendi kehidupan dalam arti seluas-luasnya untuk mewujudkan ketinggian dan kemuliaan Islam.
 Rasulullah SAW mengingiatkan kita dalam sabdanya, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada Mukmin yang lemah”. Rasulullah SAW menginginkan generasi mukmin untuk senantiasa berusaha  menjadi “yang kuat” untuk hal-hal yang bermanfaat. Setiap mukmin harus kuat dalam segala hal yang baik agar mampu memikul beban amanah yang diberikan oleh ummat dalam menyongsong kembali kejayaan.
Badan kita harus kuat, untuk beraktifitas dalam ibadah dan menghasilkan karya-karya besar. Kekuatan fisik itu amat penting peranannya. Bagaimana mau ibadah dengan khusyu kalau tubuh gampang sakit-sakitan. Bagaimana mau berkarya yang gemilang wong untuk beraktifitas biasa-biasa saja kesusahan karena gampang ambruk kelelahan.
Kecerdasn kita juga harus kuat, karena sesungguhnya hikmah ilmu itu milik kaum muslimin yang tercecer, dan harus diambil alih kembali. Maka kita harus tampil menjadi generasi-generasi yang cerdas. Memiliki kemampuan memenangkan pertarungan pemikiran dan akademik. Sehingga akan menunjukan bahwa generasi muslim pantas  untuk tampil kedepan dalam panggung ilmu pengetahuan.
Masih banyak kekuatan-kekuatan lain yang harus diasah dan diperjuangkan agar mental jiwa sebagi pemenang itu menempel pada setiap generasi Islam. Tiada lain dan tiada bukan karena mengharap ridha Allah SWT. Tiada lain juga karena  kewajiban yang diamanahkan oleh sejarah ummat Islam yang panjang, yaitu menggembalikan lagi kejayaan. Setiap kita adalah pemenang…, setiap generasi muslim adalah pemenang.

Walahu ‘alam bishawwab



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar