Sahabatku…,
kadang kalanya manusia merasa dirinya serba kurang, kurang beruntung, kurang
ganteng, kurang cantik, kurang kaya, kurang mujur nasibnya jika dibandingkan
dengan orang lain. Hal ini biasanya disebabkan karena manusia melupakan anugrah
yang amat besar, sementara fokus
berfikir pada kekurangan yang kecil. Sebagai contoh seseorang yang tersandung,
kemudian jempol kakinya berdarah akan sangat merasa sakit dan menderita jika hanya
terlalu fokus berfikir tentang nasib jempol kakinya yang berdarah itu. Tapi kalau
dia menyadari bahwa seluruh tubuhnya masih tetap sehat wal afiat ia tak akan
merasakan kesakitan yang besar pada
jempol kakinya.
Dari
jumlah itu, rata-rata hanya setengahnya saja yang mampu bertahan. Ini
dikarenakan sperma yang tidak bisa bertahan hidup di medan yang kering.
Perjuangan tentu belum selesai, ia terus berlanjut. Sel sperma yang masih
bertahan harus melanjutkan perjalanan menuju uterus. Hanya tersisa sekian juta
sel sperma yang berhasil masuk ke dalam saluran telur atau tuba falopi. Ini
baru salurannya, tujuan akhir adalah sel telur yang terletak di ujung tuba
falopi. Di sepanjang perjalanan ini, kembali jutaan sel gugur karena tidak
mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama.
Kabar
baiknya, hanya sel-sel sperma yang punya kegigihan yang mampu bertahan. Sekali
lagi mereka harus berjuang, dan kali ini yang paling berat. Bahwasannya, sel
telur yang hendak dimasuki memiliki lapisan tebal yang disebut Korona Radiata. Sel
sperma tidak dapat berjuang sendiri, ia bersama dengan segelintir teman-teman
yang tersisa berjuang untuk bisa menembus lapisan tersebut. Mereka mengerahkan
kekuatan terakhir yang masih tersisa. Namun hanya sperma yang tanggap melihat
peluang yang berhasil masuk ke dalam sel telur. Lalu, berapa sel yang sukses
masuk ke dalam sel telur? Umumnya hanya satu. Hanya satu sel sperma yang ditakdirkan
untuk jadi pemenang dan sel itu adalah kita. Ya, itu adalah kita.
Jadi,
sahabat sekalian, sadarkah bahwa sejak
masih berbentuk sperma, kemenangan sudah melekat dalam diri kita semua. Maka dengan merenungi bagaimana kita dilahirkan,
seharusnya tak pantas ada rasa kecil hati dalam dirinya. Apalagi Allah SWT telah
menegaskan dalam Firman-Nya bahwa Dia telah menciptakan manusia sebagai makhluk
yang paling sempurna diantara makhluk lainnya.
"Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya." (QS. At-Tiin:4).
Sahabatku..,
apalagi kita sebagai generasi muslim selain terlahir sebagai pemenang, seharusnya
juga tumbuh dan berkembang menjadi sang pemenang pula. Sebab, dalam setiap jiwa
generasi muslim telah mengikat prestasi kemengan, yaitu bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih
tinggi darinya. Karena itu, sudah selayaknya setiap jiwa pribadi Muslim lahir
menjadi pemenang dalam setiap sendi kehidupan dalam arti seluas-luasnya untuk
mewujudkan ketinggian dan kemuliaan Islam.
Rasulullah SAW mengingiatkan kita dalam sabdanya,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada Mukmin yang
lemah”. Rasulullah SAW menginginkan generasi mukmin untuk senantiasa
berusaha menjadi “yang kuat” untuk hal-hal
yang bermanfaat. Setiap mukmin harus kuat dalam segala hal yang baik agar mampu
memikul beban amanah yang diberikan oleh ummat dalam menyongsong kembali
kejayaan.
Badan
kita harus kuat, untuk beraktifitas dalam ibadah dan menghasilkan karya-karya
besar. Kekuatan fisik itu amat penting peranannya. Bagaimana mau ibadah dengan
khusyu kalau tubuh gampang sakit-sakitan. Bagaimana mau berkarya yang gemilang
wong untuk beraktifitas biasa-biasa saja kesusahan karena gampang ambruk
kelelahan.
Kecerdasn
kita juga harus kuat, karena sesungguhnya hikmah ilmu itu milik kaum muslimin
yang tercecer, dan harus diambil alih kembali. Maka kita harus tampil menjadi
generasi-generasi yang cerdas. Memiliki kemampuan memenangkan pertarungan
pemikiran dan akademik. Sehingga akan menunjukan bahwa generasi muslim pantas untuk tampil kedepan dalam panggung ilmu pengetahuan.
Masih
banyak kekuatan-kekuatan lain yang harus diasah dan diperjuangkan agar mental
jiwa sebagi pemenang itu menempel pada setiap generasi Islam. Tiada lain dan
tiada bukan karena mengharap ridha Allah SWT. Tiada lain juga karena kewajiban yang diamanahkan oleh sejarah ummat
Islam yang panjang, yaitu menggembalikan lagi kejayaan. Setiap kita adalah
pemenang…, setiap generasi muslim adalah pemenang.
Walahu ‘alam
bishawwab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar