Ada
sepenggal pengalaman dari nelayan Negeri Sakura yang mencari ikan di tengah
lautan luas. Lautan tersebut cukup jauh dari daratan. Mereka menangkap ikan Salmon
untuk dibawa ke daratan. Orang Jepang menginginkan ikan yang segar yang mereka
konsumsi. Namun ikan Salmon yang dibawa para nelayan tersebut telah mati ketika
sampai di daratan sehingga tidak segar lagi. Hal ini membuat para nelayan berpikir
bagaimana caranya agar ikan yang ditangkap di lautan tidak mati ketika sampai
di daratan.
Apa
yang sebenarnya membuat ikan-ikan Salmon itu bertahan hidup? Ternyata di dalam kolam
itu ikan-ikan Salmon tersebut dikejar–kejar oleh Si Hiu kecil. Mereka terus
dikejar-kejar tanpa henti. Ikan-ikan salmon itu berenang dengan gesit
menghindar dari anak ikan hiu tersebut untuk bertahan hidup. Mereka berenang
sekuat tenaga berjuang untuk mempertahankan hidup mereka sampai akhirnya di
daratan mereka masih bisa bertahan hidup.
Sahabatku…, Segala yang ada alam
semesta ini selalu bergerak. Bumi berputar
pada porosnya dan berputar mengelilingi matahari. Jagat raya yang paling besar
pun bergerak dengan teratur dan seimbang. Begitu juga dengan benda yang terkecil yaitu atom
pun juga terus bergerak.
Imam Syafi’i menulis syair panjang
seputar gerak. Ia menggambarkan, betapa seluruh yang hidup ini harus bergerak
bila ingin bertahan hidup.
“Bepergianlah. Kamu pasti akan
mendapatkan pengganti apa yang kamu tinggalkan.
Berusaha keraslah, karena kenikmatan hidup ada pada kelelahan usaha
keras,” begitu pembuka syair itu. Pada
bait yang lain ia mengatakan,”Aku melihat, air yang berhenti itu merusak
dirinya. Kalau ia mengalir pasti akan
baik. Kalau ia berhenti akan
buruk.” Ia juga mengatakan,”Dan,
kalaulah singa tidak meninggalkan
tempatnya, ia tidak dapat buruan.
Demikian juga anak panah, kalau tidak bergerak meninggalkan busur, dia
tidak akan mengenai sasaran.”
Mari kita bandingkan kondisi antara
air yang mengalir dengan air yang tergenang. Air yang mengalir akan terlihat
lebih jernih dan lebih sehat. Bahkan menurut IPA, air yang mengalir memiliki
kandungan Oksigen yang lebih tinggi. Air yang mengalir lebih berkualitas
dibandingkan air yang tergenang karena ia senantiasa bergerak. Sedangkan air
yang tergenang ia diam ditempat. Sejernih apapun ia karena hanya diam saja
lama-kelamaan akan keruh, berlumut dan berbau.
Begitulah sejatinya kehidupan ia selalu
bergerak. Karena di dalam gerak ada kehidupan itu sendiri. Manusia butuh bergerak agar mendapatkan makna
hidup. Ia butuh bergerak agar jernih pikir dan potensinya serta sehat jasadnya.
Bergerak terus dalam kebaiakan apupun yang kita bisa, sekecil apapun yang kita
mampu melakukannya. Senantiasa bergerak menggapai kehidupan yang bermakna
adalah sejati insan beriman dan bertaqwa.
Jiwa mereka optimis, tanpa
pesimis terus melangkah maju tanpa terkikis.
Sahabatku…, Teruslah bergerak kepada
jalan kebenaran. Karena sehebat apapun kita kalau diam akan hanyut. Orang-orang
yang malas dan memilih untuk diam stagnan maka ia sedang menghanyutkan dirinya
ke dalam telaga ketakbermaknaan. Sebagaimana kalau kita tidak mengisi pikiran
dengan aura positif, ia akan diisi oleh aura-aura negatif. Kalau aktivitas kita
jauh dari nilai kebaikan, bisa jadi ia akan dipenuhi dengan urusan-urusan dosa
dan kemungkaran. Kalau kita tidak
mencurahkan potensi pada jalan Ilahi, bisa jadi ia akan tercurah mengikuti
jalan syaitoni.
“Teruslah
bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah
berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah
berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah
bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah
berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(Ust.
Rahmat Abdullah)
Wallahu’alam bishshawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Monggo Saling Belajar