Senin, 12 Januari 2015

Teruslah Bergerak.., Karena Diam Itu Menghanyutkan


Ada sepenggal pengalaman dari nelayan Negeri Sakura yang mencari ikan di tengah lautan luas. Lautan tersebut cukup jauh dari daratan. Mereka menangkap ikan Salmon untuk dibawa ke daratan. Orang Jepang menginginkan ikan yang segar yang mereka konsumsi. Namun ikan Salmon yang dibawa para nelayan tersebut telah mati ketika sampai di daratan sehingga tidak segar lagi. Hal ini membuat para nelayan berpikir bagaimana caranya agar ikan yang ditangkap di lautan tidak mati ketika sampai di daratan.
Para nelayan kemudian membuat kolam kecil diatas kapal untuk menampung ikan Salmon agar tetap hidup. Akan tetapi setelah sampai ke daratan sebagian besar Salmon tetap saja mati. Cara ini pun dinilai tidak memberikan manfaat yang berarti untuk mendapat ikan Salmon segar. Akhirnya munculah sebuah ide gila dari salah seorang nelayan. Nelayan itu memasukkan Hiu kecil ke dalam kolam yang berisi ikan-ikan Salmon hasil tangkapan mereka. Hasilnya sangat mengejutkan! Ternyata ikan-ikan Salmon itu sebagian besarnya tetap hidup setelah melalui perjalanan panjang menuju daratan.
Apa yang sebenarnya membuat ikan-ikan Salmon itu bertahan hidup? Ternyata di dalam kolam itu ikan-ikan Salmon tersebut dikejar–kejar oleh Si Hiu kecil. Mereka terus dikejar-kejar tanpa henti. Ikan-ikan salmon itu berenang dengan gesit menghindar dari anak ikan hiu tersebut untuk bertahan hidup. Mereka berenang sekuat tenaga berjuang untuk mempertahankan hidup mereka sampai akhirnya di daratan mereka masih bisa bertahan hidup.

Sahabatku…, Segala yang ada alam semesta ini selalu bergerak.  Bumi berputar pada porosnya dan berputar mengelilingi matahari. Jagat raya yang paling besar pun bergerak dengan teratur dan seimbang.   Begitu juga dengan benda yang terkecil yaitu atom pun juga terus bergerak. 
Imam Syafi’i menulis syair panjang seputar gerak. Ia menggambarkan, betapa seluruh yang hidup ini harus bergerak bila ingin bertahan hidup.  “Bepergianlah.  Kamu pasti akan mendapatkan pengganti apa yang kamu tinggalkan.  Berusaha keraslah, karena kenikmatan hidup ada pada kelelahan usaha keras,” begitu pembuka syair itu.  Pada bait yang lain ia mengatakan,”Aku melihat, air yang berhenti itu merusak dirinya.  Kalau ia mengalir pasti akan baik.  Kalau ia berhenti akan buruk.”  Ia juga mengatakan,”Dan, kalaulah singa tidak meninggalkan  tempatnya, ia tidak dapat buruan.  Demikian juga anak panah, kalau tidak bergerak meninggalkan busur, dia tidak akan mengenai sasaran.”  
Mari kita bandingkan kondisi antara air yang mengalir dengan air yang tergenang. Air yang mengalir akan terlihat lebih jernih dan lebih sehat. Bahkan menurut IPA, air yang mengalir memiliki kandungan Oksigen yang lebih tinggi. Air yang mengalir lebih berkualitas dibandingkan air yang tergenang karena ia senantiasa bergerak. Sedangkan air yang tergenang ia diam ditempat. Sejernih apapun ia karena hanya diam saja lama-kelamaan akan keruh, berlumut dan berbau.
Begitulah sejatinya kehidupan ia selalu bergerak. Karena di dalam gerak ada kehidupan itu sendiri.  Manusia butuh bergerak agar mendapatkan makna hidup. Ia butuh bergerak agar jernih pikir dan potensinya serta sehat jasadnya. Bergerak terus dalam kebaiakan apupun yang kita bisa, sekecil apapun yang kita mampu melakukannya. Senantiasa bergerak menggapai kehidupan yang bermakna adalah sejati insan beriman dan bertaqwa.  Jiwa mereka  optimis, tanpa pesimis terus melangkah maju tanpa terkikis.
Sahabatku…, Teruslah bergerak kepada jalan kebenaran. Karena sehebat apapun kita kalau diam akan hanyut. Orang-orang yang malas dan memilih untuk diam stagnan maka ia sedang menghanyutkan dirinya ke dalam telaga ketakbermaknaan.  Sebagaimana kalau kita tidak mengisi pikiran dengan aura positif, ia akan diisi oleh aura-aura negatif. Kalau aktivitas kita jauh dari nilai kebaikan, bisa jadi ia akan dipenuhi dengan urusan-urusan dosa dan kemungkaran.  Kalau kita tidak mencurahkan potensi pada jalan Ilahi, bisa jadi ia akan tercurah mengikuti jalan syaitoni.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(Ust. Rahmat Abdullah)


 Wallahu’alam bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Monggo Saling Belajar